Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
(13 November 1943)
Penggunaan Majas Pada Puisi “DOA” Karya Chairil Anwar
Berikut adalah penjelasan tentang penggunaan majas pada puisi “DOA” karya Chairil Anwar.
kepada pemeluk teguh
>> Pada baris tersebut menggunakan majas metafora karena baris tersebut dimaksudkan “kepada Tuhan”
Tuhanku,
dalam termangu,
aku masih menyebut nama-Mu
>> Pada bait tersebut menggunakan majas asonansi karena terdapat perulangan vocal yang sama.
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
>> Pada bait tersebut…….
cayaMu panas suci
>> Pada baris tersebut terdapat majas hiperbola karena baris tersebut menyatakan hal yang berlebih-lebihan.
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
>> pada baris tersebut ……….
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
>> Pada bait tersebut mengandung majas juga menggunakan majas hiperbola, karena bait tersebut menyatakan hal yang berlebih-lebihan.
Tuhanku,
Aku mengembara di negeri asing
>> Pada bait tersebut tidak menggunakan majas, karena bait tersebut menggunakan bahasa sehari-hari.
Tuhanku,
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
>> Pada bait tersebut……………
Jurnalistik UHO
Selasa, 19 November 2013
8 Sifat Pemimpin yang Baik#
8 Sifat Pemimpin yang Baik
yang terlintas di benak Anda kala mendengar kata pemimpin? Mungkin ada ratusan definisi berbeda yang keluar dari ratusan orang yang berbeda untuk menjelaskan arti kata pemimpin. Namun, secara umum orang sering menghubungkan antara pemimpin dengan hadirnya tindakan koersif dan manipulasi. Persepsi ini sesungguhnya tidak benar.
Menurut William Glasser dalam bukunya, Choice Theory, sesungguhnya di dalam situasi yang paling ekstrem sekalipun, seseorang tidak dapat dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan. Jikalau orang tersebut mau mengerjakan pekerjaan yang dipaksakan itu, biasanya hasil kerjanya tidak memuaskan.
Dalam bukunya tersebut, William menyebutkan delapan ciri perilaku yang menggambarkan sifat seorang pemimpin yang baik.
1. Beri teladan tentang arti sukses kepada bawahan.
Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidakadaan tujuan dan arah sering mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya.
2. Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan.
Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. Namun, sebenarnya itu bukan tugas Anda sebagai atasan. Daripada terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah orang lain, lebih baik berikan bawahan Anda cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan.
Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi terhadap hasil kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi.
4. Berikan ruang untuk kesalahan.
Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja, tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5. Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur.
Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan diri Anda selalu ada untuk membantu saat mereka membutuhkan Anda.
6. Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat
Seringkali bawahan Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda pikir mereka ketahui. Tanyakan pendapat mereka tentang masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor. Dengan demikian, Anda membantu mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah tersebut. Hindari memberi nasihat, karena akan terkesan menggurui.
7. Bersikaplah ramah.
Aturan mainnya sungguh sederhana. Jangan berharap orang lain bersikap ramah kepada Anda jika Anda sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan bersikap ramah, Anda akan selalu bisa melihat sisi positif dari setiap karyawan Anda dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.
8. Tak kenal maka tak sayang.
Kepemimpinan erat terkait dengan hubungan antar manusia. Saat bawahan percaya bahwa Anda tulus peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan Anda, dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.
analisis novel" Yang Kedua"#
ABSTRAK
Neni Sri Yuningsi (A1D1 11 121) kajian prosa fiksi ( Analisis Struktur Novel “Yang Kedua”). oleh dosen pengasuh mata kuliah. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu adalah bagaimana menganalisis struktur novel “Yang Kedua” oleh Riawani Elyta.tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis struktural dalam novel yang berjudul “Yang Kedua” oleh Riawani Elyta.
Penelitian ini dilakukan pada semester genap 2011/2012 di fakultas dan merupakan jenis penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Data penelitian diambil dari novel Riawani Elyta yang berjudul “Yang Kedua”
Metode pengumpulan data adalah mengunakan metode deskriptif yaitu dengan teknik baca. Untuk lebih memahami makna yang terkandung dalam novel secara keseluruhan maka analisis yang terlihat adalah “Yang Kedua”.
Hasil penelitian diperoleh bahwa novel karangan Riawani Elyta yang berjudul “Yang Kedua”. Di analisis pada novel ini.
KATA PENGANTAR
Asalamu Alaikum wr.wb
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa taufik dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Kajian Prosa Fiksi(Analisis Struktural Novel Yang Kedua)” dapat dirampungkan. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa istiqomah dijalan-Nya sampai akhir zaman.
Penulis sadar sepenuhnya bahwa tugas akhir ini dapat dirampungkan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Bapak La Ode Syukur S.pd. M.Hum sebagai dosen pengasuh mata kuliah, yang telah meluangkan waktu untuk memberikan perhatian, bimbingan, ide, saran, kritik, dan arahan yang sangat berharga bagi penulis.
Ucapan terima kasih juga penulis tujukan pada semua pihak yang telah memberikan dorongan, bimbingan dan kemudahan serta bantuan moril dan materil baik secara langsung maupun tidak langsung selama penyelesaian penyusunan tugas ini. Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak bayaknya.
Penulis menyadari bahwa kodrat kita sebagai manusia biasa, kesempurnaan hanyalah milik Allah subhanahu wata’ala, sehingga dalam penyusunan skripsi ini, masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya konstruktif dari semua pihak senantiasa penulis harapkan untuk bekal penulis di masa yang akan datang. Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai sumber informasi.
Wassalam,
Kendari, April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
ABSTRAK ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.4.Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tema
2.2 Alur
2.3 Latar
2.4 Tokoh dan Penokohan
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Data dan Sumber Data……………………………………………………
3.2 Tehnik Pengumpulan Data………………………………………………..
3.3 Teknik Analisis Data……………………………………………………..
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Tokoh
4.2 Alur
4.3 Latar
4.4 Hal-hal yang menarik
BAB V PENUTUP
Kesimpulan
Kritik dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sebuah karya sastra tercipta berdasarkan imajinasi pengarang. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah suatu kenyataan bahwa seorang pengarang itu senantiasa hidup dalam suatu ruang dan waktu tertentu. Didalamnya, ia akan senantiasa terlibat dalam berbagai permasalahan. Jobrohim (2001:167) mengatakan dalam bentuk yang paling nyata, ruang, dan waktu tersebut adalah masyarakat atau kondisi social, tempat berbagai pranata nilai didalamnya berinteraksi. Dengan kata lain, konteks ini menyatakan bahwa suatu karya sastra bukanlah suatu karya yang bersifat otonom, berdiri sendiri, melainkan suatu yang terkait erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu diciptakan.
Sebuah karya merupakan proses kreatif seorang pengarang terhadap realitas social pengarangnya. Suatu karya sastra dapat dikatakan baik apabila karya satra tersebut dapat mencerminkan zaman serta situasi dan kondisi yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pada dasarnya kehidupan manusia sangatlah kompleks dengan berbagai masalah-masalah kehidupan. Kehidupan yang kompleks tersebut dapat berupa permasalahan kehidupan yang mencakup hubungan antara masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, manusia dengan Tuhannya, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagi seorang pengarang yang peka terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, dengan hasil perenungan, penghayatan serta imajinasinya, kemudian menuangkan gagasan atau idenya tersebut dalam karya sastra.
Membahas masalah karya sastra, ada beberapa persoalan yang muncul, antara lain: kurangnya kemampuan pembaca dalam memahami karya sastra yang bersifat kompleks, unik, dan tidak langsung dalam pengungkapannya. Hal inilah antara lain yang menyebabkan sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra. Hal ini sesuai dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro (1995: 31-32) yang menyatakan bahwa salah satu penyebab sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra, yaitu dikarenakan novel merupakan sebuah struktur yang komplek, unik, serta mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu usaha kritik terhadap karya sastra untuk menjelaskannya dengan disertai bukti-bukti hasil kerja analisis.
Mengenai peran sastra, George Santayana (dalam Suyitno, 1986:4) mem-berikan penjelasan bahwa sastra dapat berperan sebagai penuntun hidup. Hanya saja penuntun hidup itu tersublimasi sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bersifat mendikte tentang apa yang sebaiknya tidak dilakukan. Sastra mampu membentuk watak-watak pribadi secara personal, dan akhirnya dapat pula secara sosial. Sastra mampu berfungsi sebagai penyadar manusia akan kehadirannya yang bermakna bagi kehidupan, baik di hadapan sang pencipta maupun di hadapan sesama umat.
Di dalam kehidupan, manusia tidak pernah luput dari suatu masalah atau problema. Tidak jarang manusia merasa mengalami kekosongan jiwa, kekacauan berpikir, dan bahkan stres karena tidak mampu mengatasi masalah yang dialaminya. Dalam hal ini, karya sastra dapat berperan untuk membantu sebagai kartarsis atau pencerahan, serta sebagai sarana pembelajaran sehingga dapat diambil manfaat dan pelajaran dalam kehidupan. Hal ini sesuai pendapat Haji Saleh dalam Atar Semi (1993: 20) mengatakan bahwa tugas pertama sastra adalah sebagai alat penting bagi pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan bila mengalami masalah.
Selain itu, dewasa ini banyak masyarakat yang jauh dari sifat-sifat kemanusiaan, lupa terhadap kewajiban-kewajiban hidupnya, bersikap masa bodoh terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini, melalui karya sastra (novel) diharapkan dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk kembali pada fitrahya pada jalan yang benar.
Mengingat bahwa karya sastra adalah karya seni yang mempersoalkan kehidupan manusia dari berbagai segi kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, dan berbagai sendi kehidupan manusia lainnya maka dalam era globalisasi ini, peranan sastra cukup berarti. Mengenai hal ini, Nani Tuloli (dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (editor), 1999: 235) mengemukakan, sastra dapat berperan dalam: (1) mendorong dan menumbuhkan nilai-nilai positif manusia, seperti suka menolong, berbuat baik, beriman dan bertakwa; (2) memberi pesan kepada manusia, khususnya pemimpin, agar berbuat sesuai dengan harapan masyarakat, mencintai keadilan, kebenaran, dan kejujuran; (3) mengajak orang untuk bekerja keras demi kepentingan dirinya dan kepentingan bersama; dan (4) merangsang munculnya watak-watak pribadi yang tangguh dan kuat.
Meninjau novel Yang kedua menyimpan banyak persoalan tentang cinta. Vienna adalah seorang perempuan yang status ekonominya mapan (kaya), ia bekerja sebagai seorang figuran (Aktris). Haris menikahi Vienna karena alasan kekayaan yang dimiliki Vienna, dan bukan karena atas dasar cinta. Haris adalah tokoh yang berfatak boros, suka berwoya-woya. Suatu ketika Vienna mengalami krisis keuangan, Haris tidak mampu untuk membayar semua utang-utangnya, sehingga Harispun harus diseret ke penjara. Dave adalah rekan kerja Vienna yang begitu mencintainya. Ketika Haris masuk penjara, Viennapun menikah untuk yang kedua kalinya.
Berdasarkan uraian diatas, maka novel dengan judul Yang Kedua sangat menarik untuk diteliti.
1.2. Rumusan Masalah
Karya satra merupakan dunia kemungkinan, artinya ketika pembaca berhadapan dengan karya sastra, maka karya sastra tersebut berhadapan dengan kemungkinan penafsiran. Setiap pembaca berhak memiliki penafsiran yang berbeda terhadap makna karya sastra. Hal ini terjadi karena sebuah karya sastra mempunyai sifat khas, seperti adanya “fiksionalis”,”ciptaan”, dan “imajinatif” (Wellek dan Werren, 1989: 18-20). Ketiga unsur inilah yang menyebabkan masalah yang luas dan kompleks dalam dunia sastra. Mengingat dunia yang ditawarkan oleh dunia sastra terlalu luas maka penulis membatasi penelitian ini ialah :
1. Pada bagian-bagian yang memegang peranan penting dalam tubuh novel yang kedua, yaitu: tokoh, alur, dan latar;
2. Penelitian ini juga menganalisis nilai-nilai social yang terkandung dalam novel yang kedua, seperti: nilai budaya, nilai politik, dan nilai percintaan.
2.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berkaitan dengan masalah tersebut, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan :
1. Menguraikan Struktur novel yang kedua yang mencakup tokoh, alur dan latar.
2. Menguraikan nilai-nilai sosiologi yang terdapat dalam novel yang kedua.
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Menambah khazanah penelitian sastra Indonesia, khususnya penelitian novel yang kedua sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan karya sastra Indonesia.
b. Menjadi titik tolak untuk memahami dan mendalami karya sastra pada umumnya dan karya sastra novel yang kedua.
2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan:
a. Dapat membantu meningkatkan daya apresiasi terhadap novel yang kedua.
b. Dapat menambah wawasan kepada penikmat karya sastra tentang lapis makna dan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam novel yang kedua.
c. Dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah, khususnya tentang apresiasi novel.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Novel
Sebuah novel adalah sebuah buku panjang yang dalam . genre ini memiliki akar sejarah, baik di bidang dari dan awal dan dalam tradisi . Yang terakhir ini disediakan istilah generik hadir di abad ke-18.Definisi lebih lanjut dari genre secara historis sulit. Pembangunan naratif, , cara dibuat dalam karya-karya , daya tarik dari studi, dan penggunaan bahasa biasanya dibahas untuk menunjukkan manfaat artistik novel. Kebanyakan dari persyaratan ini diperkenalkan pada abad 16 dan 17 untuk memberikan fiksi pembenaran di luar bidang faktual . The presentasi membuat pribadi dan dua kerabat terdekat di antara genre sejarah modern.
Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 588), konsep didefenisikan sebagai berikut,
1. Rancangan dan buram surat dsb,
2. Ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret: satu istilah dapat mengandung dua yang berbeda dan
3. Ling gambaran mental dari objek, proses atau apa pun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal yang lain.
Dari defenisi di atas, penulis menilai bahwa defenisi ketiga adalah yang paling tepat untuk mengambarkan konsep dalam skripsi ini yaitu, gambaran mental dari objek , proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Dengan demikian, konsep digunakan sebagai kerangka atau pijakan untuk menjelaskan, atau pun memaparkan suatu objek atau topik pembahasan. Dalam hal ini, konsep yang dimaksudkan adalah gambaran dari objek berupa novel berjudul Yang Kedua yang akan dibedah dalam suatu pembahasan skripsi yang berjudul Analisis structural pada Novel Yang Kedua Karya Riawani Elita yang dianalisis dari tinjauan Sosiologi Sastra.
Struktur adalah keseluruhan relasi antara berbagai unsur sebuah teks. Strukturalisme adalah aliran ilmu dan kritik yang memusatkan perhatian pada relasi-relasi antar unsur. Unsur-unsur itu sendiri tidak penting, tetapi memperoleh arti dalam relasi-relasi lain. Relasi yang ditelaah dapat berkaitan dengan unsur-unsur mikroteks (misalnya kata-kata dalam satu kalimat), atau dalam keseluruhan yang lebih luas (misalnya bari-baris atau bait-bait dalam sebuah sajak; bab-bab dalam fiksi); relasi intertekstual (karya sastra dengan karya sastra lain dalam periode tertentu). Kaitan dapat ditelaah berdasarkan periodeitas, korespondensi, repetisi, kontras, gradasi, dan sebagainya (lihat Noor, 2004:78-79).
Unsur-unsur struktur dalam karya sastra yaitu tema, tokoh dan penokohan, latar, alur dan penaluran, dan pusat pengisahan. Dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
a. Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antarmanusia yang menguasai kehidupan itu. Berdasarkan asal usul katanya sosiologi dapat didefinisikan sebagai berikut: sosiologi berasal dari bahasa latin, socius: teman, kawan; social: berteman, bersama, berserikat. Sosiologi bermaksud untuk mengerti kejadian-kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan, manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Singkatnya sosiologi adalah ilmu msyarakat atau kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakat (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakat) dengan ikatan-ikatan adat kebiasaan, kepercayaan atau agamanya, tingkah laku serta keseniannya atau yang disebut kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupan.
b. Sastra
Damono (1978;10 mengatakan bahwa lembaga social menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan social.
c. Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra adalah pendekatan sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Segi kemasyarakatan berhubungan dengan masyarakat yang berada disekitar sastra itu baik penciptanya, gambaran masyarakat yang diceritakan itu dan pembacanya.
Grebstein (dalam Damono,1984: 4-5) menjelaskan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara menyeluruh dan tuntas jika dipisahkan dari budaya masyarakat yang menghasilkannya. Dengan demikian, kesamaan permasalahan antara sosiologi dengan sastra adalah sama-sama berurusan dengan manusia dan masyarakat. Namun, seorang sosiolog hanya dapat melihat fakta berdasarkan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan sastrawan mampu mengungkapkan kenyataan melalui imajinasinya.
Uraian di atas dipertegas oleh pendapat Ratna (2004: 399) yang mengatakan bahwa sosiologi sastra adalah “Analisis karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat”. Jadi, sosiologi adalah kajian terhadap suatu karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya baik yang berhubungan dengan penciptanya, gambaran masyarakat dalam karya itu, maupun pembacanya.
Menurut Leurenson dan Swingewood (1971) tiga prespektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu: 1. Peneliti yang memandang karya sastra sebagai dokumen social yang didalamnya merupakan refleksi situasi pada masa satra tersebut diciptakan, 2. Penelitian yang mengungkapkan satra sebagai cerminan situasi social penulisnya, dan 3. Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan social budaya.
d. Karya Satra
Wellek dan Warren (1984:276) mengatakan bahwa karya satra adalah hasil ciptaan pengarang yang menggambarkan segala peristiwa yang dialami masyarakat didalam kehidupan sehari-hari.
B. Ciri-Ciri Novel
Novel adalah salah satu karya fiksi berbentuk prosa. Ciri-ciri novel antara lain:
a. ditulis dengan gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana;
b. bersifat realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi lingkungannya;
c. bentuknya lebih panjang, biasanya lebih dari 10.000 kata; dan
d. alur ceritanya cukup kompleks.
Novel dibangun atas beberapa unsur intrinsik antara lain: alur, tokoh dan penokohan, latar, tema, dan amanat. Ada beberapa istilah alur antara lain: alur rapat, alur renggang, alur progresif, alur regresif, dan alur gabungan. Alur rapat artinya hubungan antara proses dengan konflik sangat rapat. Kebalikannya alur renggang. Alur progresif yaitu menceritakan kejadian secara maju. Sebaliknya adalah alur mundur atau regresif. Alur gabungan jika menggabungkan alur progresif dan regresif.
2.1 .Tema
Golys Keraf (1980:107) mengatakan bahwa tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan penulis lewat karanganya. Sedangkan menurut Sulastin (1983;920 tema adalah semacam kesimpulan bahan cerita, karena itu dinyatakan sesingkat-singkatnya.
Tema pada hakikatnya merupakan makna yang terkandung dalam cerita atau secara singkat makna cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi terutama novel mungkin saja lebih dari satu atau lebih tepatnya lebih dari satu interpretasi. Oleh karena itu muncullah tema utama dan tema tambahan. Merurut Nurgiantoro, Tema utama artinya makna cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu dibuat. Menentukan tema utama merupakan aktivitas memilih, mempertimbangkan, dan menilai diantara sejumlah makna yang ditafsirkan ada dikandung oleh karya yang bersangkutan. Sementara itu, makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasi sebagai makna bagian atau makna tambahan. Intinya, makan tambahan bersifat mendukung atau mencerminkan makna atau tema utama dari keseluruhan cerita. Bahkan, adanya koherensi yang erat antara makna tambahan inilah yang akan memperjelas makna utama cerita (Nurgiantoro, 1995:82-83).
2.2.Alur
Menurut U.U, HamidY (1983:26) alur suatu cerita atau plot dapat dipandang sebagai pola atau kerangka cerita dari bagian-bagian lain cerita itu disangkutkan sehingga cerita itu kelihatan menjadi suatu bangunan yang utuh.
Secara umum cerita rekaan terdiri atas peristiwa yang terjadi di bagian awal, tengah, dan akhir. Dalam struktur alur, bagian awal ini terdiri atas paparan (exposition), rangsangan (inciting moment), dan gawatan (rising action), dan klimaks (climax). Adapun bagian akhir terdiri dari leraian (falling action) dan selesaian (denovement). (Mahayana, 2005: 153)
Definisi pengaluran adalah teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kuantitasnya, alur dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campuran keduanya.
2.3.Latar
Latar atau seting ialah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakukan dalam karya satra (Panuti Sudjiiman, 1984: 46).
Faktor pembagian cerita rekaan yang lain adalah setting atau latar cerita yang erat kaitannya dengan adegan dan latar belakang karena begitu pentingnya penggambaran latar (setting) guna memperhidup dan meyakinkan pembaca, maka banyak pengarang yang melakukan observasi terlebih dahulu sebelum menulis cerita. Setting berkaitan dengan waktu dan tempat penceritaan. Waktu dapat berarti siang atau malam, tanggal, bulan, atau tahun dan dapat juga berarti lama berlangsungnya cerita. Aminuddin dalam Sekitar Masalah Sastra menyatakan bahwa setting berfungsi untuk mengungkapkan perwatakan atau karakter dan kemauan yang berhubungan dengan alam, manusia (1987:197). Setting dapat membangun suasana cerita yang meyakinkan. Sementara itu, Monqugue dan Henshaw (1987:198) dalam buku Sekitar Masalah Sastra karya Aminuddin menyatakan 3 fungsi setting yaitu: 1) mempertegas waktu, 2) mempertegas watak atau karakter, 3) memberikan tekanan pada tema cerita 4) memperjelas tema yang disampaikan.
Unsur – unsur latar menurut Nurgiyantoro (1997:227) yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar social, penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut;
1) Latar Tempat
Latar tempat mengarah pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas.
2) Latar waktu
Berhubungan dengan masalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Berhubungan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah.
3) Latar Sosial
Berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
2.4.Penokohan/perwatakan
Menurut Abrams penokohan itu adalah perwatakan mengenai sifat, tabiat atau perangai tokoh yang terdapat dalam cerita atau drama.
Tokoh adalah suatu kepribadian fiksi yang mewakili suatu figur dengan predikat penilaian tertentu baik secara fisik maupun mental. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, terdapat dua jenis tokoh yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan (Nurgiantoro, 1995:176-177). Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenal kejadian. Tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung maupun tidak langsung.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
(http://adiel87.blogspot.com/2009/01/analisis-struktural.html)
Penampilan watak yang dilakukan ada tiga macam cara yaitu:
1. Cara analitik yaitu pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh-tokohnya. Misalnya, pengarang menyebutkan watak tokoh yang pemarah, otoriter, sombong, kasar, dan sebagainya.
2. Cara dramatik yaitu watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, perilaku tokoh, bahkan penampilan fisik, lingkungan atau tempat tokoh, cara berpakaian dan pilihan nama tokoh, dan sebagainya.
3. Cara campuran yaitu gambaran watak tokoh mengunakan cara analitik dan cara dramatik secara bergantian.
Novel Yang Kedua
Novel adalah salah satu jenis karya sastra. Pada umumnya novel merupakan hasil daya cipta seorang pengarang akan pengalaman hidupnya serta bentuk-bentuk kehidupan masyarakat. Masyarakat sering mengatakan bahwa novel merupakan wadah untuk mengungkapkan kehidupan manusia dari berbagai aspek karena mengungkapkan berbagai macam perasaan di dalamnya misalnya latar belakang kehidupan masyarakat itu menjadi dasar penciptaan sebuah karya sastra. Misalnya pada novel YangKedua banyak menceritakan lika-liku percintaan.
Landasan Teori
Dalam penelitian ini membutuhkan landasan teori yang mendasari, karena landasan teori merupakan kerangka dasar sebuah penelitian. Landasan teori yang digunakan hendaknya mampu menjadi tumpuan seluruh pembahasan. Dalam analisis ini penulis akan menggunakan teori sosiologi sastra untuk menganalisis data-data yang diperlukan sebagai penunjang atas keberhasilan analisis ini.
Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak belakang dari orientasi kepada semesta, namun dapat juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.
Menurut Ratna (2004: 332) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut.
1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, ketiganya adalah anggota masyarakat.
2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
3. Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan.
4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, dan adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.
5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif, pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif biografi pengarang yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
Sosiologi karya sastra itu sendiri lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh. Di samping itu, permasalahan yang diangkat dalam karya sastra biasanya masih relevan dalam kehidupan masyarakat.
Sastra dapat dikatakan sebagai cermin masyarakat, atau diasumsikan sebagai salinan kehidupan, tidak berarti struktur masyarakat seluruhnya dapat tergambar dalam sastra. Yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai mikrokosmos sosial. Seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat jelata, dan sebagainya.
Selain sosiologi sastra penulis juga akan membicarakan tentang konflik yang terjadi pada tokoh-tokoh di dalam novel tersebut. Teori sosiologi berhubungan erat dengan konflik.
Kedua hal inilah yang digunakan penulis. Karena menganalisis sebuah karya sastra itu selalu berhubungan dengan ilmu-ilmu lain yang mendukung dalam pengkajian tersebut. Salah satunya adalah sosiologi. Penulis ingin mengkaji dilihat berdasarkan konflik yang terdapat dalam novel Yang Kedua karya Riawani Elyta, untuk mengkajinya penulis menghubungkannya dengan teori sosiologi sastra.
Menurut Kamus Merriam Webster dan Advance (Ubaydillah, http://www.e-psikologi.com : 2007) Konflik adalah :
1. Perlawanan mental sebagai akibat dari: kebutuhan, dorongan, keinginan atau tuntutan yang berlawanan
2. Tindakan perlawanan karena ketidakcocokan / ketidakserasian
3. Berkelahi, berperang, atau baku hantam
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Data dan Sumber Data
Data dikumpulkan dengan menggunakan metode membaca heuristic dan hermeneutic. Menurut Pradopo (2001: 84), pembaca heuristic adalah pembaca bedasarkan konvensi system semiotic tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya. Pembaca hermeneutic adalah pembaca ulang atau retroaktif sesudah pembaca heuristic dengan memberikan konvensi sastra.
Selain itu, Pradopo (2001:84) juga menjelaskan, “metode membaca heuristic pada cerita rekaan atau novel merupakan pembacaan berdasarkan tata bahasa ceritanya yaitu pembacaan novel dari awal sampai akhir cerita secara berurutan. Cerita yang memiliki alur sorot balik dapat dibaca secara secara lurus. Hal ini dipermudah dengan dibuatnya synopsis cerita dari novel yang dibaca tersebut. Pembacaan heuristic itu adalah penerangan kepada bagian-bagian cerita secara berurutan.
Hasil pembacaan heuristic terhadap novel Yang Kedua menghasilkan cerita sebagai berikut: novel Yang Kedua ini adalah sebuah karya seorang pengarang Indonesia yang pernah .
Metode membaca heuristic harus diulangi dengan bacaan retroaktif dan ditafsirkan secara hermeneutic sehingga pada system semiotic tingkat kedua isi cerita rekaan atau novel dapat memberikan pemahaman serta penafsiran makna cerita keseluruhan dari novel yang dibahas.
Selanjutnya penafsiran data tersebut dicatat pada katu data. Penafsiran tersebut dicatat berdasarkan masala yang berhubungan dengan unsur-unsur instriksik, seperti: alur, latar. Penokohan, dan tema serta unsur-unsur ekstrinsik, seperti : nilai budaya, politiik, dan nilai percintaan yang terdapat dalam novel Yang Kedua pada kartu data yang berbeda.
3.2 Tehnik Pengumpulan Data
Ditinjau dari proses data, tahapan penelitian ini tampak dari serangkaian kegiatan seperti pengumpulan data,penyusunan,penganalisian,dan penyimpulkan dari proses situ akhirnya diperoleh hasil permasalahan yang digarap,yaitu Menganalisis Stuktural Novel yang kedua oleh Riawani Elyta yang Sehubungan dengan gambaran tersebut jelaslah bahwa metode deskriptf dengan tehnik baca
3.3Teknik Analisis Data
Teknik penelitian yang digunakan adalah studi perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan diruang perpustakaan. Pada penelitian ini akan diperoleh data dan informasi tetang objek penelitian melalui buku-buku. Adapun objek penelitian ini adalah Yang Kedua.
Dalam menganalisis data objek yang akan diteliti terlebih dahulu dirumuskan berdasarkan masalah kemudian diadakan studi perpustakaan. Setelah berbagai informasi diperoleh selanjutnya dilakukan pengumpulan data, dan penafsiran data. Kesimpulan merupakan langkah akhir dalam laporan penelitian.
BAB IV
ASPEK STRUKTURAL NOVEL YANG KEDUA
4.1 TOKOH
Tokoh yang hadir dalam cerita novel Yang Kedua antara lain:
1. Vienna Aristaty
2. Dave Ananta
3. Haris
4. Mbak Widi
5. Bu Nita
6. Mbak Sita
7. Ibu Butet
8. Ibu Mirna
9. Ibu Diena
10. Ratih
11. Pak Suta Wijaya
12. Willy
13. Astrid
14. Lucky
15. Marcell
16. Dokter Singapore
17. Dua orang presenter
18. Suzanne
19. Dion
20. Bernard Bear
21. Bodyguard
22. Cameramen
23. Denny
24. Securiti Bungalo
25. Office Boy
26. Amri
27. Sutinah
28. Ade
29. Alvin
30. Pak Marto
31. Paman Goh Keh
Karakterristik setiap tokah yg paling banyak muncul:
1. Vienna Aristaty:
• Baik,
• Tegar dan
• Mencintai suaminya apa adanya
2. Dave Ananta:
• Baik
• Setia menunggu
3. Haris :
• Baik tapi
• Egois
• Serakah
4. Pak Suta Wijaya:
• Baik
• Bijaksana
5. Willy:
• Baik
• Marah-marah
6. Astrid:
• Baik
• Suka menasehati
7. Suzanne:
• cemburu
8. Pak Marto:
• Baik
• Setia pada Dave
9. Paman Goh Keh:
• Baik
• Tegar
Hubungan antar tokoh:
1. Vienna Aristaty
2. Dave Ananta
3. Haris
4. Mbak Widi
5. Bu Nita
6. Mbak Sita
7. Ibu Butet
8. Ibu Mirna
9. Ibu Diena
10. Ratih
11. Pak Suta Wijaya
12. Willy
13. Astrid
14. Lucky
15. Marcell
16. Dokter Singapore
17. Dua orang presenter
18. Suzanne
19. Dion
20. Bernard Bear
21. Bodyguard
22. Cameramen
23. Denny
24. Securiti Bungalo
25. Office Boy
26. Amri
27. Sutinah
28. Ade
29. Alvin
30. Pak Marto
31. Paman Goh Keh
Analisis tokoh dan penokohan pada Novel Yang Kedua:
1. Tokoh utamanya, yaitu Vienna. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Baik sebagai pelaku kejadian maupn dikenai kejadin.
2. Tokoh bawahan, yaitu :
• Dave Ananta
• Haris
• Mbak Widi
• Bu Nita
• Mbak Sita
• Ibu Butet
• Ibu Mirna
• Ibu Diena
• Ratih
• Pak Suta Wijaya
• Willy
• Astrid
• Lucky
• Marcell
• Dokter Singapore
• Dua orang presenter
• Suzanne
• Dion
• Bernard Bear
• Bodyguard
• Cameramen
• Denny
• Securiti Bungalo
• Office Boy
• Amri
• Sutinah
• Ade
• Alvin
• Pak Marto
• Paman Goh Keh
Tokoh protagonis
Tokoh protagonisnya , yaitu: Vienna Anastaty. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun
Tokoh antagonis
Tokoh antagonisnya, yaitu: Haris, ia merupakan tokoh yang berlawanan karakter dengan tokoh protagonis
Tokoh sederhana,
yaitu dave Ananta. Ia memiliki sifat yang baik dan ikhlas mencintaidari awal sampai akhir cerita.
Tokoh bulatnya
yaitu, vienna Anastaty. Karena ia merupakan tokoh yang memiliki perkembangan dalam kehidupannya, yang awalnya ia hanya tukang menjual asuransi dan hanya bernyanyi di kamar mandi. Kini, berkat usahanya yang mengikuti lomba, kini ia menjadi seorang wanita karier yang berlimpahan
Tokoh datarnya yaitu, Dave Ananta.ia merupakan tokoh yang dari awal sampai akhir cerita tetap menunjukan sikap kasih sayangnya dan ketulusannya kepada yang ia cintai.
Tokoh statisnya, Haris.tokoh cerita yang esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Tokoh bawahan, Dave Ananta dan Haris. Tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perkembanga cerita ,meskipun mereka juga dalam pengembangan alur itu.
Tokoh latar:
Mbak Widi,Bu Nita, Mbak Sita, Ibu Butet, Ibu Mirna, Ibu Diena, Rati,Pak Suta Wijaya, Willy, Astrid, Lucky, Marcell, Dokter Singapore, Suzanne, Dion, Bernard Bear, Bodyguard, Cameramen, Denny, Securiti Bungalo, Office Boy, Amri, Sutinah, Ade, Alvin,Pak Marto dan Paman Goh Keh. P pengembangan alur. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap latar.
4.2 ALUR
Episode/episodik
NO
1 Vienna penyanyi kamar mandi Ikut lomba nyanyi Menang (penyanyi panggung)
2 Vienna juara Dikontrak Tenar
3 Tinggal di Jakarta Menikah Pindah ke batam
4 Di batam Jadi artis Kembali ke Jakarta
5 Vienna tumor rahim Operasi angkat rahim Tidak bisa punya anak
6 Juara lomba Vienna dan Dave berteman Dijadikan teman duet
7 Haris anak manja Menikah Profokator
8 Vienna kaya Merasa dimanfaatkan Meblokir rekeningnya
9 Jahitan baju bu Widi Jadi artis Baju dari desain handal
10 Dave menjaga kafe Juara lomba penyanyi
11 Menanam saham Dijadikan jaminan Banyak utang
12 Selalu menyanyi Banyak uang Suami gila harta
13 Menerima kekurangan tidak bisa memiliki momongan Tidak bisa mengabulkan permintaan Kekurangan diungkit
14 Kafe dijaga adiknya Lebih banyak menyanyi Kafe bangkrut
15 Banyak utang Tadak bisa membayar Dipenjara
16 Teman kerja Selalu bertemu Saling jatuh cinta
17 Di penjara Menceraikan Resmi berpisah
18 Mengundurkan diri Menghilang Menjadi orang biasa
19 Artis Menghilang Penjual kue
20 Menunggu 3 tahun Mengutarakan perasaan Ditolak
21 Banyak materi Semua bisa dibeli, kecuali cinta Menghancurkan rumah tangga
22 Tidak bisa memiliki keturunan Merasa tidak ada yang bisa menerimanya Menolak yang mencintainya
23 Ragu Mencari kepastian atas perasaan Menemukan jawaban
24 Ditolak Tidak menyerah Terus membuktikan cintanya
Sekuen
Shangrilla Café, 1997
1. Dave datang ke ulang tahun Valencia teman dekatnya
2. Valencia memarahi Dave karena datang trlambat
3. Dave disuruh memaikan piano di atas panggung ulang tahun
4. Dave meminta maaf karena datang terlambat
5. Dave langsung memainkan piano dengan intro Happy Birthday
6. MC melanjutkan dengaan permainan, bermin tongkat
7. Tongkat itu jatuh pada seorang wanita yang berdiri diposisi kanan
8. Gadis itu di suruh naik diatas panggung untuk menyannyi di iringi Dave sebagai pemain piano
9. Dave menanyakan lagu yg akan ia nyayikan,
10. Gadis itu malu, sekadarnya menaikkan kepalanya, tetap menunduk meskipun ketika menyanyi
11. Dave merasakan getaran yang lain pada gadis itu
12. Setelah menyanyi gadia itu menghilang
13. Dave mencoba mencari dikerumunan banyak orang yang datang pada ulang tahun itu
14. Gadis itu tidak di temukan
Batam, 10 tahun kemudian…..
• Vienna mengikuti perlombaan nyanyi
• Vienna gugup
• Vienna menuju kamar mandi
• vienna, bertemu seorang lelaki
• Vienna menjadi pemenang kedua
• Seorang lelaki yg medapatkan juara pertama
• Mereka diketemukan diatas panggung
• Vienna kaget,Ternyata lelaki itu,yg ia temui ditoilet td
• Haris mengeluh karena Vienna tdak menjadi juara pertama
• Vienna tersindir karena Haris tidak mensyukuri keberhasilannya
• Vienna mendapat hadiah sebuah rumah dan berupa uang
• Haris meminta dibelikan motor
• Vienna merasa enggan, karena ia ingin memperbaiki rumah mereka yang sudah peot
• Vienna ingat kekurangannya yg diterima Haris
• Vienna mengabulkan,dan meminta izin untuk acara syukuran atas keberhasilannya
• haris tidak terlalu menyukai acara tersebut
• selesai acra Vienna bersih-bersih
• vienna ditelfon Ratih dari diva entertainment
• vienna kaget dan penasaran, disuruh bertemu pak Suta besok siang
• vienna dan Dave dipertemukan kembali oleh pak Suta
• Vienna dan Dave dikontrak untuk duet
• Vienna meminta izin pada Haris
• Vienna diizinkan
• Dave mempecayakan kafenya kepada adiknya, dan memilih dunia artis
• Vienna dan Dave latihan untuk tour lomba perdananya
• Karena sering bertemu ditempat latihan dan dipanggung Dave jatuh cinta
• Selesai latihan Dave mengjak Vienna minum capuccino
• Kali pertama Dave mersakan getran ketika barsama seorang wanita
• Karena sudah sore, Vienna berpamitan pulang
• Vienna memasuki taksi dan pulang
• Dave berharap Vienna barhenti dan memintanya untuk mengantarnya tapi itu hanya sebuah mimpi
• Vienna sampai dirumah dan melihat Haris bersemangat dengan motor barunya
• Vienna mengkhayal andai uang itu un tuk pembangunan rumah
• Vienna memberitahu Haris kalau teman duetnya seorang lelaki
• Vienna terkejut ternyata Haris menerimanya, tdak peduli siap teaman duetnya
• Vienna merasa Haris tdak mencintainya lagi
• Vienna dan dave kembali latihan
• Mereka diarahkan untuk totalitas dalam menyanyi dilomba yg tinggal seminggu lg
• Selesai latihan Dave mengajak semua rekan kerja entertainmenyya untuk ngopi di kafenya
• Kebiasaan Vienna selesai latihan langsung pulng
• Dave mencari vienna untuk diajak ngopi
• Vienna menolak, tapi Dave menemukan alasan agar vienna tdak mengelak
• Dave berhasil mengajak Vienna, meski itu hanya sbentar
• Selesai minum kopi, dave mengajak Vienna menonton rekaman mereka minnggu lalu dan mengantarnya untuk pulang
• Dave menanyakan bersama siap tinnggal
• Vienna dengan spontan, tinggal bersama suaminya Haris
• Dave menghangat sampai ke uluh hati, jawaban yg sama sekali ia tdak duga, ternyata Vienna sudah memiliki seorang suami
• Dave tak ingin merusak suasana yg sudah cair, ia tegar mencoba menerima semua yg vienna katakan dengan sekuatnya meski kenyataan itu tak membuat hatinya tenang.
• Tidk tau dengan perasaannya, semakin vienna jujur dengan kehidupnnya, Dave semakin suka
• Vienna mengajak dan menginginkan Haris untuk ikut ke Singapore
• Haris menolak uktuk ikut serta
• Para rombongan segera menaiki feri menuju Harbour Front menuju Singapore
• Para rombongan membincangkan apartement yg mereka akan menginap setelah sampai di Singapore
• Rombongan sampai di Singapore
• Di kaca mobil taksi ,Vienna menikmati suasana Negara yg baru pertama kali ia kunjungi itu
• Ternyata mereka berdua peserta terakhir yg berada dilokasi
• Mereka langsung disuru pulang keapartemnt, untuk makan siang sbelum beberpa jam menjelng show
• Di taksi Vienna mersakan sakit pada kepalanya
• Mengetahui itu tanpa memikirkan apa-apa Dave duduk disamping Vienna
• Dave memberikan suplemen yg biasa ia minum dan ia bawa ke mana-mana pada Vienna
• Rombongan sampai di apaetemet,
• Langsung makan siang
• Vienna selesai duluan dan segera berganti pakaian
• Haris hanya berharap senaga penampilannya sukses
• Vienna berkerkerut dahi, karena seorang suami tdak memikirkan kasehatan hanya disuruh
• Vienna demam dan langsung menghangatkan badannya dengan shower
• Marcell siap mendandani Vienna dengan kosmetik dan gaun yg sdah disiapkan
• Vienna diam-diam mengagumi hasil kerja Marcel yg setengah perempuan itu
• Vienna terlihat cantik dengan gaun putih yg ia kenakan
• Semuanya terkesima dengan Vienna, lebih- lebih Dave
• Vienna sendiri kagum pada penampilan Dave dengan kemeja putihnya
• Vienna bersama rombongan langsung ke tempat lomba
• Vienna dan Dave langsung memisahkan diri pada ruang yg khusus untuk para peserta
• Jantung Vienna terpacu ,mereka finalis dari Indonesialah yang tampil pertama
• Vienna dan Dave lega karena sudah tampil, menyelesaikan putaran maraton
• Setengah jam lagi mereka bersiap-siap untuk putaran kedua
• Vienna dan Dave tampil untuk puaran kedua
• Aplaus yg meriah dari par penonton
• Selesai menyanyi Vienna jatuh pingsan di bawah gendongan Dave
• Dave memanggil dokter
• Vienna istirahat sampai jam 5 pagi
• Vienna jatuh pingsan ternyata karena sms Haris yg selalu menekannya untuk menang supaya bsa membayar uang asuransi
• Vienna drop , pusing hingga akhirnya ia pingsan
• Vienna kembali sehat stelah menghabiskan makan malam dan dua gelas full larutan glukosa
• Vienna membaca pesan dari Dave menayakan kondisinya
• Vienna mulai merasa Dave menganggapnya lebih dari seorang partner kerja
• Vienna sadar tidak boleh takluk, karena ia sudah memilki seorang suami
• Vienna mengubah profil ponselnya menjadi ofline
• Vienna tidak mau diganggu oleh sms suaminya yg hanya membuatnya sakit
• Malamnya semua rombongan kembali berada di Espilanade
• Vienna dan Dave tampak tersenyum datar menuntggu hasil pengumuman
• Satu persatu vokalis dan musisi mulai memadati acar
• Vienna dan dave menyaksikan sehelai amplop yg terancung
• Vienna dan Dave mendngar satu persatu pemenang diucapkan
• Secara serentak kedua presenter itu dengan lantang menyebut peserta dari Indonesia yg mendapatkan juara utama
• Semua rombongan dari indonesia gegap gempita merayakan keberhasilan itu
• Setelah selang beberapa bulan Segalanya berubah drastis
• Vienna dan Dave menjadi artis seorang yang di idolakan
• Vienna dan Dave sibuk dengan banyak kegiatan
• Malam Dave menyempatka untuk melihat kafenya yg ia prcayaka pada adiknya Dion
• Di kafe Dave bertemu teman lamanya dan menceitakan perceraiannya dengan suaminya
• Suzanne cemburu pada Voenna , wanita yg disukai Dave Ananta
• Siang Dave,Vienna bersama rombongan melakukan promo tour disalah satu lokasi pecinan di Singapore
• Vienna tidak mau didandani yang aneh-aneh
• Dave ingin berada lebih dekat lagi dengan Vienna
• Selesai pekrjaan Vienna selalu langsung pulang
• Dave melarang Vienna pulang
• Dave mengajak vienna jalan- jalan sebentar
• Vienna mulai terbuka pada Dave lebih dari urusan pekerjaan
• vienna dan Dave menyantap rujak
• vienna mendapat pesan dari Haris ,untk meminta uang lagi
• vienna terpuruk dngan sifat suaminya
• vienna ingin mengeluarkan keluhannya
• paginya Vienna pulang ke Batam
• Haris mengajukan diri jadi manajer pribadi Vienna
• Vienna berharap, Haris dapat menemaninya kemanapun kegiatannya
• Ternyata Haris hanya mengatur jadwalnya tapi tidak dengan menemaninya
• Haris mengatur semua keuangan
• Haris membeli sebuah rumah mewah,
• Vienna tidak diberitahu
• Vienna kehilangan suara riah ibu-ibu dan para tetangga
• Vienna tidak menikmati rumah yg dibeli Haris
• vienna istirahat
• Haris, menyuruhya bekerja. Karena Vienna li di atas daun
• Vienna sedang ingin istirahat dan tidak ingin bekerja, Haris memberi tatapan yang tajam
• Haris mengumgkit kekurangannnya
• Vienna dan Haris bertengkar
• Haris merasa menang dngan mengungkit kekurangan Vienna
• Vienna tergolek tak berdaya
• Maalamnya Vienna di ajak ke fourd court oleh rekan –rekan kerjnya
• Vienna tetap tegar denagn sikap haris
• Vienna menuju tempat yang dituju
• Vienna dihadang seseorang di lift
• Vienna hampir diperkosa
• Dave tiba-tiba datng membantu
• Dave dan vienna lari menaiki motor menuju tempat acara
• Vienna diam saja saat bersama dave
• Dave bisa membaca pikiran Vienna yg memiliki banyak masalah
• Vienna berterimakasi kepada Dave
• Pagi hari vienna bersama sang suami akan ke Jakarta
• Mereka mengunjungi mertuana
• Mereka sampai di jakarta
• Vienna diliput sampai malm hari bersama kelurganya
• Besoknya Vienna akan terbang ke Bali sesuai jadwal
• Vienna mengajak haris
• Haris lebih memilih kembali ke Batam
• Vienna hanya disuruh jaga diri
• Dave berangkat dari Batam
• Pemotretan dilakukan dan selesai ha ri itu juga
• Vienna diundang makan BBQ bersama rombongan
• Malamnya acara itu diadakan
• Dave datang sedikit terlambat
• Dave menanyakan Vienna pada Astrid
• Vienna lgi dipantai menyendiri
• Dave menemui vienna
• Vienna sedang melamun, memikirkan masalahnya rumah tangganya yg mulai renggang
• Vienna tak menghiraukan panggilan siapapun
• Dave segera menarik Vienna yg hampir tenggalam
• Dave kahwatir dan memarahinya
• Vienna menangis dan memeluk Dave
• Vienna menceritakan keluh kesah rumah tangganya pada Dave
• Dave memahami hati seorang wanita yg ia cintai itu
• Bibir Vienna bergetar, mersa sang suami yang hanya memanfaatkannya
• Vienna bergumam, karena sesungguhnya ia mempunyai rasa yang sama
• Vienna ingat kekurangannya tak bisa memiliki seorang anakrsa ,me tak ada lelaki yg bisa menerimanya selain Haris
• Vienna melepas pelukanya
• Lari menjauhi Dave
• Dave tak bisa berbuat apa-apa
• Dave sadar , Vienna sidah dimilki
• Pagi setelah kejadian tadi malam
• Dave masih mengingat kejadian tadi malam
• Dave merasa Vienna mempunyai rasa yang sama
• Vienna yang tak menyadari ia telah memikat hati setelah kejadian 10 tahun yang lalu, di pesta ulang tahun Valencia
• Dave menerima telepon dari Denny
• Denny mengbarkan tentang vianna
• Vienna tak bisa ikut dalam acara yg diselenggarakan nant malam
• Dave kaget tentang Vienna yg pergi
• Dave diwawancarai tentang Vianna
• Vienna pulnag ke Batam tanpa ada yang tau dari pihak rombongan
• Vienna pulang kerumahnya
• Melihat Haris yg baru plang membawa pick- up
• Haris kaget Vienna berada di rumah
• Vienna heran dengan tingkah Haris yg semakin merajalela dengan uang yg ia buang-buang
• Vienna bicara empat mata pada Haris
• Haris tidak memperdulikan ucapannya
• Haris lebih mementingkan IPAD dan BB nya
• Vienna tidak kuat lg dengan sikp haris
• Vienna marah dam mengeluarkan semua keluhannya
• Vienna dipukul, dan di caci maki dengan tangannya dan ocehan kasarnya
• Vienna menangi s dan Haris langsung meninggalkan Vienna sediri
• Paginya Vienna berangkat ke Jakarta
• Vienna cuti dari dunia ke artisan
• Vienna untuk menghilang untuk kesekin kalinya, tpi ini lebih menyakitkaan baginyya
• Vienna menyewa apartement tanpa ada satu orangpun yang tau
• Dave mencari Vienna tapi ia tidak menemukannya
• Vienna memblokir semua rekeninh yang ia mliki, agar haris tidak lg mengambil uang semaunya
• Tiba-tiba Haris menelfon
• Haris menanyakan tempat tinggal Vienna
• Vienna keheranan, tapi ia tetap memberitau karena bgaimanapun ia tetep suaminya
• Haris tiba di apartement, keheranan dngan cara berpakain Haris
• Haris seperti buronan
• Haris menanyakan rekening yg diblokir
• Anehnya Haris tidak menuntut
• Haris istirahat
• Vienna measak untuk suaminya
• Vianna mendengar ketukan pintu
• Ternyata pihak polisi
• Polisi yang mencari Haris, yg ternyata banyak memiliki utang
• Haris ditangkap
• Vienna ternganga , bergolek tak berdaya melihat sang suami di bawa petugas
2 minggu kemudian………
• Vienna jumpa pers
• Vienna mengundurkan diri dari dunia pertelevisian
• Dave hanya bisa melihat Vienna yg mengalami kepahitan menjalani hidupnya
• Dave tidak pernah menyerah
• Vienna kembali ke kampung halamanya dan menghilang
• Dave mencari vienna, tapi tak ditemukan
6 bulan kemudian ……….
• Vienna menjadi pengusaha kue
• Dave tidak pernah menyerah mencari Vienna
• Dave menemukan tempat tinggal Vienna di Jakarta
• Vienna kaget dengan kedatangan Haris
• Dave kembali mengutarakan cintanya yg tak pernah pudar srkecill apapun
• Saat Haris di penjara
• Vienna diceraikan oleh Haris
• Haris merasa bersalah pada Vienna
• Vienna tidak mau sakit untuk kedua kalinya
• Vienna tak bisa memiliki anan
• Dave tidak peduli
• Vienna menyuruh Dave untuk memikirkannya matang-matang
• Dave disuruh pulang
• Dave disuruh ke pak marto oleh kakaknya untuk mendaptkn keresahan hatinya untuk memilih
• Dave menemukan jawabannya dan kenblai menemui Vienna
• Vienna tidak ada dirumah
• Bibi memberikan surat pada Dave
• Vienna infeksi kanker rahim
• Dave tanbah tak bisa berpisah dengan Viennna
• Dave tambah mencintai Vienna
• Dave menemui Vienna di pantai
• Dave memeluk Vienna dan mengungkapkan begitu ia mencintainnya dengan sepenuh hatinya
• Keduanya menyatu
Struktur alur
Pengenalan tokoh
Vienna dan Dave pertama kali bertemu di sebuah pesta ulang tahun Valencia, diatas panggung, Dave yg memandu acra sebagai pemain piano dan Vienna ynag dihukum karena kalah dalam permainan ulangtahun tersebut disitulah Dave merasakan getaran cinta, namun selesai menyanyi Vienna menghilang dan Dave mencarinya namun tak ditemukan lagi. 10 tahun kemudian bertemu kembali diacara festival musik lomba nyanyi. Namun Vienna sudah memiliki seorang suami.
Konflik
Dave yang tetap bertahan mempertahankan hatinya pada Vienna, meskipun ia tau, Vienna sudah ada yang memiliki.
Vienna merasa suaminya hanya memanfaatkannya dengan apa yang dimilikinya, semua keuangan Haris yang ambil ahli, sehingga apapun yang ia inginkan dapat ia beli tanpa memikirkan istrinya yang bekerja keras banting tulang
Klimaks
Vienna memblokir semua rekeningnya sehingga Haris tidak semena- mena menarik uamg semaunya. Kemudian kepada Dave, Vienna tetap setia pada Haris meski ia pun memiliki rasa yang sama pada Dave, tapi ia sadar dengan statusnya yg sudah di miliki dan kelurangganya yg tidak bisa memiliki keturunan dam mersa tidak ada lelaki lain selain Haris yang mencintainyya dan menerimanya setulus hatinya meskipun dalam hatimya ia juga mempunyai rasa yang sama.
Peleraian
Haris tidak bisa membayar utang. Hingga Haris jadi buronan para petugas kepolisian. Dan Dave yang tetap memperjuangkan cintany meski Vienna untuk waktu yang lama menghilang, ia tetap mencarinnya dan mencarinya meskai ia tau dengan resiko yang akan ia hadapi.
Penyelesain
Haris di penjara dan menjelang beberapa bulan Vienna pun diceraikan oleh Haris. Dave menemukan Vienna, dan mersatu dengan menerima masing- masing kekurangan yang mereka miliki,
4.3 LATAR
Latar Tempat :
• Pesta ulang tahun
• Di panggung festival
• Kamar mandi
• Rumah
• Di dalam mobil
• Di studio Dive entertainment
• Branch office diva
• Kafe cappuccino
• Apartemant
• Di sofa
• Ditaksi
• Stadion Esplanade theatre
• Ruang ganti
• Kapal feri
• Di lift
• Di pantai
• Bandara
Latar tempat khusus pada novel ini yaitu:
• Batam
• Singapore
• Jakarta
Latar waktu :
• Pagi hari
• Malam hari
• Siang hari dan sore hari
Latar suasana:
• Senang, gembira saat memenangkan juara
• Suasasa syukuran atas kemenangan
• Sedih ketika mengungkapkan kegundahan di dada
• Suasana menegangkan ketika menanti detik pengunmuman
• Suasana terharu ketika disatukan
• Suasana penuh kemarahan ketika pertengkaran terjadi
Latar social budaya:
Meski dengan memiliki banyak beban dalam rumah tangganya, tapi ia dapat menutup dengan tegar semua itu di hadapan para rekan- rekannya.
4.4 Hal menarik/ nilai:
Nilai yang dapat kita ambil dalam cerita tersebut adalah, cinta dan kasih sayang itu tidak ternilai oleh apapun, meski itu dengan materi sekalipun. Cinta Dave kepada Vienna benar- benar tulus dari hatinya dengan menerima semua kekurangan Vienna yg tak bisa mempunyai keturunan. Meski Dave dan Vienna terlambat di pertemukan
BAB V
PENUTUP
2. Kesimpulan:
Berdasarkan hasil analisis novel, dapat disimpulkan bahwa novel merupakan sebuah cerita kehidupan yang membuat para pembaca menemukan sisi menarik dari ide pokok novel tersebut. Maka dalam menganalisis novel. Tentu kita harus mambaca novel tersebut secara telkiti serta memahami dan mencari tokoh, alur, latar dan yang lainnya.
3. Saran:
Dengan mengacu pada hasil analisis , maka saran yang ada yaitu:
1. Untuk lebih memahami sebuah cerita dalam sebuah novel maka pembaca harus terlebih dahulu memahami novel tersebut secara seksakama
2. Untuk mengetahui alur, latar dan tokoh dalam sebuah novel maka harus di baca secara keseluruhan isi novel tersebut.
pengertian istilah#
ISTILAH
Pengertian Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna, konsep proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada dua macam istilah: (1) istilah khusus dan
(2) isiilah umum. Istilah khusus adalah kata yang pemakaiannya dan maknanya terbatas pada suatu bidang tertentu, misalnya cakar ayam (bangunan), agregat (ekonomi); sedangkan istilah umum ialah kata yang menjadi unsur bahasa umum. misalnya: ambil alih, daya guna, kecerdasan, dan tepat guna merupakan istilah umum, sedangkan radiator, pedagogi, androgogi, panitera. sekering, dan atom merupakan istilah khusus.
Istilah dalam bahasa Indonesia bersumber pada: kosa kata umum bahasa Indonesia, kosa kata bahasa serumpun. dan kosa kata bahasa asing.
Proses pembentukan istilah dilakukan melalui pemadanan atau penerjemahan, misalnya busway menjadi jalur bus; penyerapan kosa kata asing, misalnya camera menjadi kamera dan gabungan penerjemahan dan penyerapan, misalnya subdivision menjadi sub bagian
SUMBER ISTILAH
ISTILAH INDONESIA
Kata atau istilah dalam bahasa indonesia dapat dijadikan sumber istilah jika memenuhi salah satu atau lebih syarat-syarat bahwa istilah yang dipilih adalah kata atau frasa: (1) paling tepat unruk mengungkapkan konsep yang dimaksudkan, (2) paling singkat di antara pilihan yang tersedia, (3) berkonotasi baik, (4) sedap didengar, dan (5) bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan Istilah, 2005:2).
Istilah Nusantara
Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat yang dapat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah dapat diambil dan stilah Nusantara, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, asal memenuhi syarat, misalnya: Garuda Pancasila bineka tunggal ika, wayang, sawer, dan lain-lain. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005: 4).
Istilah Asing
Istilah baru dapat dilakukan dengan pemadanan melalui penerjemahan atau penyerapan istilah asing. Penerjemahan perlu memperhatikan kesamaan dan kesepadanan makna konsepnya. misalnya: network — jaringan kerja, jejaring, medical treatment berarti pengobatan, brother-in -law berarti abang/adik ipar, (begroorirg) post berarti mata anggaran.
Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam istilah Indonesia dan istilah nusantara tidak lagi dapat ditemukan. lstilah asing diserap jika dapat :
(1) meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik.
(2) mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia,
(3) Iebih singkat dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia,
(4) mcmpermudah kesepakatan antar pakar jika istilah Indonesia terlampau banyak sinonimnya, atau
(5) lebih tepat karena tidak mengandung konotasi buruk.
Penyerapanistilah asing dapat dilakukan dengan:
(1) penyesuaian ejaan dan lafal. misalnya camera (kaemera) kamera (kamera),
(2) penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal design, misalnya (disain) desain (desain),
(3) tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan peyesuaian lafal, misalnya bias (baies) bias (bias),
(4) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya stutus quo, in vitro,
(5) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya golf, internet.
PEREKACIPTAAN
Para ahli dalam berbagai bidang keilmuan (ilmuwan, budayawan, seniman) pencetus ide, konsep, sistem, dan lain-lain yang tidak pernah ada sebelumnya dapat dikategorikan sebagai perekacipta. Untuk menamai hasil pemikiran tersebut dapat menciptakan istilah baru sesuai dengan lingkungan dan corak keilmuannya, misalnya: pondasi cakar ayam, sasra bahu (dalam bidang bangunan), dan agrowisara (wisata pertanian) (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan istilah, 2005: 6-21).
Pengertian metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu yang membahas tentang cara atau metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian.
Penelitian adalah upaya mencari kebenaran akan sesuatu. Upaya dalam penelitian berupa kegiatan meneliti.
Pengertian mencari tidak lain adalah mencari jawaban, yang dapat berarti menemukan atau menguji.
Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah metode yang menggunakan kebenaran ilmiah
Disebut ilmiah jika;
- bersistem
- bermetode
- berobyektifitas
- berlaku umum (universal).
KONSEP DAN MACAM-MACAM METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi. Suatu penelitian mempunyai rancangan penelitian (research design) tertentu. Rancangan ini menggambarkan prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah. Tujuan rancangan penelitian adalah melalui penggunaan metode penelitian yang tepat, dirancang kegiatan yang dapat memberikan jawaban yang teliti terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
1. Penelitian kuantitatif
Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. Ada beberapa metode penelitian yang dapat dimasukan ke dalam penelitian kuantitatif yang bersifat noneksperimental, yaitu metode : deskriptif, survai, ekspos facto, komparatif, korelasional dan penelitian tindakan.
a. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau, misalnya : berapa lama anak-anak usia pra sekolah menghabiskan waktunya untuk nonton TV
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Penelitian demikian disebut penelitian perkembangan (developmental studies). Dalam penelitian perkembangan ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu, dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
b. Penelitian survai
Survai digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topik atau isu-isu tertentu. Ada 3 karakter utama dari survai : 1) informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu seperti : kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi; 2) informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan (umumnya tertulis walaupun bisa juga lisan) dari suatu populasi; 3) informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi. Tujuan utama dari survai adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi.
c. Penelitian Ekspos Facto
Penelitian ekspos fakto (expost facto research) meneliti hubungan sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab-akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi, misalnya penelitian tentang pemberian gizi yang cukup pada waktu hamil menyebabkan bayi sehat.
d. Penelitian Komparatif
Penelitian diarahkan untuk mengetahui apakah antara dua atau lebih dari dua kelompok ada perbedaan dalam aspek atau variabel yang diteliti. Dalam Penelitian ini pun tidak ada pengontrolan variabel, maupun manipulasi/perlakuan dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alamiah, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrumen yang bersifat mengukur. Hasilnya dianalisis secara statistik untuk mencari perbedaan diantara variabel-variabel yang diteliti.
e. Penelitian korelasional
Penelitian ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain. Misalnya : Penelitian tentang korelasi yang tinggi antara tinggi badan dan berat badan, tidak berarti badan yang tinggi menyebabkan atau mengakibatkan badan yang berat, tetapi antara keduanya ada hubungan kesejajaran. Bisa juga terjadi yang sebaliknya yaitu ketidaksejajaran (korelasi negatiif), badanya tinggi tapi timbangannya rendah (ringan).
f. Penelitian tindakan
Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian yang diarahkan pada mengadakan pemecahan masalah atau perbaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun perbaikan hasil kegiatan. Misalnya : Guru-guru mengadakan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kelas, kepala sekolah mengadakan perbaikan terhadap manajemen di sekolahnya.
g. Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan (research and development), merupakan metode untuk mengembangkan dan menguji suatu produk (Borg,W.R & Gall,M.D.2001). Metode ini banyak digunakan di dunia industri. Industri banyak menyediakan dana untuk penelitian mengevaluasi dan menyempurnakan produk-produk lama, dan atau mengembangkan produk baru. Dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan dapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, insttrumen evaluasi, model-model kurikulum, pembelajaran, evaluasi, bimbingan, managgemen, pengawasan, pembinaan staff, dll.
2. Penelitian kuantitatif Eksperimental
Penelitian Eksperimental merupakan penelitian yang palin murni kuantitatif, karena semua prinsip dan kaidah-kaidah penelitian kuantitatif dapat diterapkan pada metode ini. Penelitian Eksperimental merupakan penelitian labolatorium, walaupun bisa juga dilakukan diluar labolatorium, tetapi pelaksanaannya menerapkan prinsip-prinsip penelitian labolatorium, terutama dalam pengontrolan terhadap hal-hal yang mempengaruhi jalanya eksperimen. Metode ini bersifat validation atau menguji, yaitu menguji pengaruh satu atau lebih variabel terhadap variabel lain. Variabel yang memberi pengaruh dikelompokan sebagai variabel bebas (independent variables) dan variabel yang dipengaruhi dikelompokan sebagai variabel terikat (dependent variables). Ada beberapa variasi dari penelitian eksperimental, yaitu : eksperimen murni, eksperimen kuasi, eksperimen lemah dan subjek tunggal.
a. Eksperimen murni
Eksperimen murni (true experimental) sesuai dengan namanya merupakan metode eksperimen yang paling mengikuti prosedur dan memenuhi syarat-syarat eksperimen. Prosedur dan syarat-syarat tersebut, terutama berkenaan dengan pengontrolan variabel, kelompok control, pemberian perlakuan atau manipulasi kegiatan serta pengujian hasil. Dalam eksperimen murni, kecuali variabel independen yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel dependen, semua variabel dikontrol atau disamakan arakteristiknya.
b. Eksperimen semu
Metode eksperimen semu (qusi experimental) pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya adalah dalam pengontrolan variabel. Pengontrolannya hanya dilakukan terhadap satu variabel saja, yaitu variabel yang dipandang paling dominan.
c. Eksperimen Lemah
Eksperimen lemah (weak experimental) merupakan metode penelitian eksperimen yang desain dan perlakuannya seperti eksperimen tetapi tidak ada pengontrolan variabel sama sekali. Sesuai dengan namanya, eksperimen ini sangat lemah kadar validitasnya, oleh karena itu tidak digunakan untuk penelitian tesis dan disertasi juga skipsi sebenarnya.
d. Eksperimen subjek Tunggal
Eksperimen subjek tunggal (single subject experimental), merupakan eksperimen yang dilakukan terhadap subjek tunggal.Dalam pelaksanaan eksperimen subjek tunggal, variasi bentuk eksperimen murni, kuasi atau lemah berlaku.
3. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan keduan menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori.
Metode kualitatif secara garis besar dibedakan dalam dua macam, kualitatif interaktif dan non interaktif. Metode kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya.
a. Studi Etnografik
Studi etnografik (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok social atau sistem. Proses penelitian etnografik dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, berbentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan para partisipan, dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan benda-benda (artifak).
b. Studi Historis
Studi Historis (historical studies) meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer berupa kesaksian dari pelaku sejarah yang masih ada, kesaksian tak sengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, dan kesaksian sengaja berupacatatan dan dokumen-dokumen.
c. Studi Fenomenologis
Fenomenologis mempunyai dua makna, sebagai filsafat sain dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis (phenomenological studies) mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan.Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman-pengalaman dalam kehidupan. Tujuan dari penelitian fenomenologis adalah mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tersebut.
d. Studi Kasus
Studi kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.
e. Teori Dasar
Penelitian teori dasar atau sering juga disebut penelitian dasar atau teori dasar (grounded theory) merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatan terhadap suatu teori.
f. Studi Kritis
Dalam penrelitian kritis, peneliti melakukan analitis naratif, penelitian tindakan, etnografi kritis, dan penelitian feminisme. Penelitian mereka diawali dengan mengekspos masalah masalah manipulasi, kesenjangan dan penindasan sosial.
g. Penelitian noninteraktif
Penelitian noninteraktif (non interactive inquiry) disebut juga penelitian analitis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sintesis data, untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat diamati.
Minimal ada 3 macam penelitian analitis atau studi noninteraktif, yaitu analisis : konsep, historis, dan kebijakan. Analisis konsep, merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau pelaksana secara beragam sehingga banyak menimbulkan kebingungan, umpamanya : cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi dll.
Metode Penelitian
Subjek Penelitian: populasi dan sampel, teknik sampling. Untuk penelitian Teknik Elektro, umumnya bagian ini diganti dengan Bahan Penelitian yang menguraikan tentang jenis, karakteristik, dan spesifikasi bahan yang digunakan.
-Teknik Pengumpulan Dataa
-Teknik Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LJ.Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, Bandung:Remaja rosda karya, 2000.
Moh.Nazir, Metode penelitian, Jakarta:Gramedia, 1983.
Masri Singarimbun,Metode penelitian survey, Jakarta:LP3ES,1999.
Pengertian Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna, konsep proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada dua macam istilah: (1) istilah khusus dan
(2) isiilah umum. Istilah khusus adalah kata yang pemakaiannya dan maknanya terbatas pada suatu bidang tertentu, misalnya cakar ayam (bangunan), agregat (ekonomi); sedangkan istilah umum ialah kata yang menjadi unsur bahasa umum. misalnya: ambil alih, daya guna, kecerdasan, dan tepat guna merupakan istilah umum, sedangkan radiator, pedagogi, androgogi, panitera. sekering, dan atom merupakan istilah khusus.
Istilah dalam bahasa Indonesia bersumber pada: kosa kata umum bahasa Indonesia, kosa kata bahasa serumpun. dan kosa kata bahasa asing.
Proses pembentukan istilah dilakukan melalui pemadanan atau penerjemahan, misalnya busway menjadi jalur bus; penyerapan kosa kata asing, misalnya camera menjadi kamera dan gabungan penerjemahan dan penyerapan, misalnya subdivision menjadi sub bagian
SUMBER ISTILAH
ISTILAH INDONESIA
Kata atau istilah dalam bahasa indonesia dapat dijadikan sumber istilah jika memenuhi salah satu atau lebih syarat-syarat bahwa istilah yang dipilih adalah kata atau frasa: (1) paling tepat unruk mengungkapkan konsep yang dimaksudkan, (2) paling singkat di antara pilihan yang tersedia, (3) berkonotasi baik, (4) sedap didengar, dan (5) bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan Istilah, 2005:2).
Istilah Nusantara
Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat yang dapat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah dapat diambil dan stilah Nusantara, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, asal memenuhi syarat, misalnya: Garuda Pancasila bineka tunggal ika, wayang, sawer, dan lain-lain. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah, 2005: 4).
Istilah Asing
Istilah baru dapat dilakukan dengan pemadanan melalui penerjemahan atau penyerapan istilah asing. Penerjemahan perlu memperhatikan kesamaan dan kesepadanan makna konsepnya. misalnya: network — jaringan kerja, jejaring, medical treatment berarti pengobatan, brother-in -law berarti abang/adik ipar, (begroorirg) post berarti mata anggaran.
Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam istilah Indonesia dan istilah nusantara tidak lagi dapat ditemukan. lstilah asing diserap jika dapat :
(1) meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik.
(2) mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia,
(3) Iebih singkat dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia,
(4) mcmpermudah kesepakatan antar pakar jika istilah Indonesia terlampau banyak sinonimnya, atau
(5) lebih tepat karena tidak mengandung konotasi buruk.
Penyerapanistilah asing dapat dilakukan dengan:
(1) penyesuaian ejaan dan lafal. misalnya camera (kaemera) kamera (kamera),
(2) penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal design, misalnya (disain) desain (desain),
(3) tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan peyesuaian lafal, misalnya bias (baies) bias (bias),
(4) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya stutus quo, in vitro,
(5) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya golf, internet.
PEREKACIPTAAN
Para ahli dalam berbagai bidang keilmuan (ilmuwan, budayawan, seniman) pencetus ide, konsep, sistem, dan lain-lain yang tidak pernah ada sebelumnya dapat dikategorikan sebagai perekacipta. Untuk menamai hasil pemikiran tersebut dapat menciptakan istilah baru sesuai dengan lingkungan dan corak keilmuannya, misalnya: pondasi cakar ayam, sasra bahu (dalam bidang bangunan), dan agrowisara (wisata pertanian) (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan istilah, 2005: 6-21).
Pengertian metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu yang membahas tentang cara atau metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian.
Penelitian adalah upaya mencari kebenaran akan sesuatu. Upaya dalam penelitian berupa kegiatan meneliti.
Pengertian mencari tidak lain adalah mencari jawaban, yang dapat berarti menemukan atau menguji.
Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah metode yang menggunakan kebenaran ilmiah
Disebut ilmiah jika;
- bersistem
- bermetode
- berobyektifitas
- berlaku umum (universal).
KONSEP DAN MACAM-MACAM METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi. Suatu penelitian mempunyai rancangan penelitian (research design) tertentu. Rancangan ini menggambarkan prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah. Tujuan rancangan penelitian adalah melalui penggunaan metode penelitian yang tepat, dirancang kegiatan yang dapat memberikan jawaban yang teliti terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
1. Penelitian kuantitatif
Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. Ada beberapa metode penelitian yang dapat dimasukan ke dalam penelitian kuantitatif yang bersifat noneksperimental, yaitu metode : deskriptif, survai, ekspos facto, komparatif, korelasional dan penelitian tindakan.
a. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau, misalnya : berapa lama anak-anak usia pra sekolah menghabiskan waktunya untuk nonton TV
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Penelitian demikian disebut penelitian perkembangan (developmental studies). Dalam penelitian perkembangan ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu, dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
b. Penelitian survai
Survai digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topik atau isu-isu tertentu. Ada 3 karakter utama dari survai : 1) informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu seperti : kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi; 2) informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan (umumnya tertulis walaupun bisa juga lisan) dari suatu populasi; 3) informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi. Tujuan utama dari survai adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi.
c. Penelitian Ekspos Facto
Penelitian ekspos fakto (expost facto research) meneliti hubungan sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab-akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi, misalnya penelitian tentang pemberian gizi yang cukup pada waktu hamil menyebabkan bayi sehat.
d. Penelitian Komparatif
Penelitian diarahkan untuk mengetahui apakah antara dua atau lebih dari dua kelompok ada perbedaan dalam aspek atau variabel yang diteliti. Dalam Penelitian ini pun tidak ada pengontrolan variabel, maupun manipulasi/perlakuan dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alamiah, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrumen yang bersifat mengukur. Hasilnya dianalisis secara statistik untuk mencari perbedaan diantara variabel-variabel yang diteliti.
e. Penelitian korelasional
Penelitian ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain. Misalnya : Penelitian tentang korelasi yang tinggi antara tinggi badan dan berat badan, tidak berarti badan yang tinggi menyebabkan atau mengakibatkan badan yang berat, tetapi antara keduanya ada hubungan kesejajaran. Bisa juga terjadi yang sebaliknya yaitu ketidaksejajaran (korelasi negatiif), badanya tinggi tapi timbangannya rendah (ringan).
f. Penelitian tindakan
Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian yang diarahkan pada mengadakan pemecahan masalah atau perbaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun perbaikan hasil kegiatan. Misalnya : Guru-guru mengadakan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kelas, kepala sekolah mengadakan perbaikan terhadap manajemen di sekolahnya.
g. Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan (research and development), merupakan metode untuk mengembangkan dan menguji suatu produk (Borg,W.R & Gall,M.D.2001). Metode ini banyak digunakan di dunia industri. Industri banyak menyediakan dana untuk penelitian mengevaluasi dan menyempurnakan produk-produk lama, dan atau mengembangkan produk baru. Dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan dapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, insttrumen evaluasi, model-model kurikulum, pembelajaran, evaluasi, bimbingan, managgemen, pengawasan, pembinaan staff, dll.
2. Penelitian kuantitatif Eksperimental
Penelitian Eksperimental merupakan penelitian yang palin murni kuantitatif, karena semua prinsip dan kaidah-kaidah penelitian kuantitatif dapat diterapkan pada metode ini. Penelitian Eksperimental merupakan penelitian labolatorium, walaupun bisa juga dilakukan diluar labolatorium, tetapi pelaksanaannya menerapkan prinsip-prinsip penelitian labolatorium, terutama dalam pengontrolan terhadap hal-hal yang mempengaruhi jalanya eksperimen. Metode ini bersifat validation atau menguji, yaitu menguji pengaruh satu atau lebih variabel terhadap variabel lain. Variabel yang memberi pengaruh dikelompokan sebagai variabel bebas (independent variables) dan variabel yang dipengaruhi dikelompokan sebagai variabel terikat (dependent variables). Ada beberapa variasi dari penelitian eksperimental, yaitu : eksperimen murni, eksperimen kuasi, eksperimen lemah dan subjek tunggal.
a. Eksperimen murni
Eksperimen murni (true experimental) sesuai dengan namanya merupakan metode eksperimen yang paling mengikuti prosedur dan memenuhi syarat-syarat eksperimen. Prosedur dan syarat-syarat tersebut, terutama berkenaan dengan pengontrolan variabel, kelompok control, pemberian perlakuan atau manipulasi kegiatan serta pengujian hasil. Dalam eksperimen murni, kecuali variabel independen yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel dependen, semua variabel dikontrol atau disamakan arakteristiknya.
b. Eksperimen semu
Metode eksperimen semu (qusi experimental) pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya adalah dalam pengontrolan variabel. Pengontrolannya hanya dilakukan terhadap satu variabel saja, yaitu variabel yang dipandang paling dominan.
c. Eksperimen Lemah
Eksperimen lemah (weak experimental) merupakan metode penelitian eksperimen yang desain dan perlakuannya seperti eksperimen tetapi tidak ada pengontrolan variabel sama sekali. Sesuai dengan namanya, eksperimen ini sangat lemah kadar validitasnya, oleh karena itu tidak digunakan untuk penelitian tesis dan disertasi juga skipsi sebenarnya.
d. Eksperimen subjek Tunggal
Eksperimen subjek tunggal (single subject experimental), merupakan eksperimen yang dilakukan terhadap subjek tunggal.Dalam pelaksanaan eksperimen subjek tunggal, variasi bentuk eksperimen murni, kuasi atau lemah berlaku.
3. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan keduan menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori.
Metode kualitatif secara garis besar dibedakan dalam dua macam, kualitatif interaktif dan non interaktif. Metode kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya.
a. Studi Etnografik
Studi etnografik (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok social atau sistem. Proses penelitian etnografik dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, berbentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan para partisipan, dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan benda-benda (artifak).
b. Studi Historis
Studi Historis (historical studies) meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer berupa kesaksian dari pelaku sejarah yang masih ada, kesaksian tak sengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, dan kesaksian sengaja berupacatatan dan dokumen-dokumen.
c. Studi Fenomenologis
Fenomenologis mempunyai dua makna, sebagai filsafat sain dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis (phenomenological studies) mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan.Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman-pengalaman dalam kehidupan. Tujuan dari penelitian fenomenologis adalah mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tersebut.
d. Studi Kasus
Studi kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.
e. Teori Dasar
Penelitian teori dasar atau sering juga disebut penelitian dasar atau teori dasar (grounded theory) merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatan terhadap suatu teori.
f. Studi Kritis
Dalam penrelitian kritis, peneliti melakukan analitis naratif, penelitian tindakan, etnografi kritis, dan penelitian feminisme. Penelitian mereka diawali dengan mengekspos masalah masalah manipulasi, kesenjangan dan penindasan sosial.
g. Penelitian noninteraktif
Penelitian noninteraktif (non interactive inquiry) disebut juga penelitian analitis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sintesis data, untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat diamati.
Minimal ada 3 macam penelitian analitis atau studi noninteraktif, yaitu analisis : konsep, historis, dan kebijakan. Analisis konsep, merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau pelaksana secara beragam sehingga banyak menimbulkan kebingungan, umpamanya : cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi dll.
Metode Penelitian
Subjek Penelitian: populasi dan sampel, teknik sampling. Untuk penelitian Teknik Elektro, umumnya bagian ini diganti dengan Bahan Penelitian yang menguraikan tentang jenis, karakteristik, dan spesifikasi bahan yang digunakan.
-Teknik Pengumpulan Dataa
-Teknik Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LJ.Moleong, Metodologi penelitian kualitatif, Bandung:Remaja rosda karya, 2000.
Moh.Nazir, Metode penelitian, Jakarta:Gramedia, 1983.
Masri Singarimbun,Metode penelitian survey, Jakarta:LP3ES,1999.
Kamis, 24 Oktober 2013
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN KALIMAT EFEKTIF DALAM KARANGAN NARASI SISWA SMP KELAS IX SMP NEGERI 1 LAINEA #
NAMA : NENI SRI YUNINGSIH
NAMA : JULIA
NOMOR STAMBUK : A1D1 06 089
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JUDUL PENELITIA :KEMAMPUAN MENGGUNAKAN KALIMAT EFEKTIF DALAM KARANGAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LAINEA
DOSEN PEMBIMBING : PEMBIMBING I : Drs. La Yani Konisi, M.Hum
PEMBIMBING II : Drs. Fahrudin Hanafi, M.pd
Tahun skripsi : 2011
ABSTRAK
1. PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
1.2 kajian teori
2. METODE PENELITIAN
3. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataaan bahwa materi kalimat efektif merupakan salah stau materi pelajaran bahasa indonesia di sekolah menengah pertama, sehingga perlu mendapat perhatiah karena penguasaan kalimat efektif siswa dapat berimplikasi pada penggunaan bahasa indonesia untuk berkomunikasi lisan baik tertulis. Berdasarkan kenyataan tersebut maka masalah yang diangkat dalam penelitain ini adalah “ Bagaimanakah Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif Dalam Karangan Siswa IX SMP Negeri 1 Lainea?”
Tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Lainea. Manfaat yang diharapkan adalah (1) dapat memberikan informasi faktual mengenai Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa IX SMP Negeri 1 Lainea; (2) sebagai gbahan masukan sebagai guru bahasa dan sastra indonesia dalam rangka peningkatan kualitas pengajaran bahasa indonesia khususnya pengajaraa kalaimata efektif di kelas IX Negeri Lainea: (3) hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam usaha- usaha penelitian lanjutan yang sifatnya lebih luas dan mendalam
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu tes tertulis.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 48 responden dalam penelitian ini dapat menyusun kaliamat sebanyak 716 kalimat. Dari jumlah tersebut kalimat yang efektif dari aspek kelengkapan sebanyak 440 kailmat (61,45%); dari aspek kehematan sebanyak 374 kalimat (52,25%); dari aspek kelogisan sebanyak 383 kalimat (53,49%); dari aspek pilihan kata sebanyak 482 (67,31).
Penguasaan materi berdsarkan komponen kalimat efektif diketahui bahwa (1) secara individual sebanyak 17 responden atau 35,33 % dikatakan mampu pada aspek kelengkapan, (2) sebanyak 13 responden atau 27,08% dikatakan mampu pada aspek kehematan (3) sebanyak 22 responden atau 25% dikatakan mampu pada aspek pilohan kata(diksi)
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Kemapuan Menulis Kalimat Efektif Siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea secara klasikal berada dalam kategori tidak mampu, karena tidak mencapai 85% yang mempunyai 65%. Dalam hal ini hanya mencapai 16,67% (8 responden).
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahn dengan sikap terbuka. Dengan kata lain, pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)
Sasaran dibidang pendidikan diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan itu sendiri, baik pada pendidikan formal maupun pada lembaga pendidikan nonfarmal. Untuk meningkatkan mutu pendidikan ini, maka perlu adanya upaya untuk peningkatan metode pengajaran, sebab mengajar merupakan tantanga ynag dihadapi setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan pendidikan. Banyak upaya yang dilakukan, banyak pula keberhasilan yang tekah dicapai meskipun disadari bahwa apa yang belum dicapai belum sepenuhnya memberikan prestasi yang menggembirakan sehingga menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras untuk mmecahkan masalah- masalh yang dihadapai dalam bidang pendidikan h=khusunya dalma sekolah Menengan Pertama (SMP).
Di dalam masyarakat medern seperti sekarang ini makin dirasakan potensi sebagai alat komunikasi. Dalam berintegrasi dengan masyarakat di sekeliling mesti menggunakan bahsa sebagai mediumnya. Semua orang menyadari bahwa intereaksi dan segala kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Kemampuan siswa SMP menggunakan bahsa indonesia sevara baik dan benar merupakn kunci kelancaran dan kesempurnaan dalam proses komunikasi.
Berdasarkan pernyataat tersebut , masalah kalimat merupaan hal yang penting dan harus dikuasai oleh siswa SMP. Namun kenyataanya, pemahaman siswa terhadap kalimat efektif belum menunjukan hasil yang baik.
Kalimat dikatakan efektif, apabila mampu membuat proses penyampaian dn penerimaan itu berlangsung secara sempurna , kalimat efektif mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran si penerima(pembaca), persis yang disampaikan oleh penulis.
Pembelajaran kalimat efektif bedasarkan kurikulum berbasis kompetensi di SMP kelas IX memuat kompetensi dasar menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, ketrpaduan paragraf, dan kebulatan wacana. Oleh karena itu, perlu mendapat perhatian serius dalam pembelajaran bahasa indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengadakan kajian terhadap kemampuan siswa dlam menulis kalimat efektif.
Khususnya di SMP Negeri 1 Lainea, setelah dilakukan observasi awal diperolh informasi bahwa kemampuan siswa dalam menulis kalimat efektf belu mampu, untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri I Lainea khusunya opada aspek kelengkaoan, kehematan, kelogisan dan pilihan kata.
1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi masalah dalam peneltain ini adalah “ Bagaimanakah kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea?”
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemempuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Dapat memberikan informasi faktual mengenai kemempuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa IX SMP Negeri 1 Lainea
2. Sebagai bahan masukan guru abhasa dan asatra indonesia dalam rangaka peningkatan kualitas pengajaran bahsa indonesia khususnya pengajaran kalimat efektif di kelas IX SMP Negeri 1 Laine
3. Hasil penelitian ini digharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam usaha- uasa penelitian lanjutan yang sifatnya lebih luasn dan mendalam.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Kalimat Efektif di Kelas IX SMP Berdasarkan Kurikiulkum Tingkat Satuan Pendidikan
Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan pembelajaran struktur kalimat bahasa indonesia adalah agar siswa SMP dapat memahami dan menafsirkan makna kalimat bahasa indonesia yang disesuaikan makna kalimat bahsa indonesia yang disesuaikan dlam konteks dan situasi. Purwo (1997:9) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran stuktur kalimat bahasa indonesia adalah untuk memperlihatkan suatu sistem susunan kalimat bahasa indonesia atas fungsi- fungsinya, seprti subjek, predikat, objek dan keterangan, dengan mengetahui fungsi- fungsi kalimat itu seorang siswa SMP dapat membuat kaliamat yang baik dan banar
Pembelajaran kalimat efekti berdasarkan kirikulum berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas IX memuat kompetensi dasar menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf dan kebulatab wacana.
Untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis kalimat efektif digunakan analisis keseluruhan terhadap seluruh pelajaran yaitu kemempuan menulis kalimat efektif dalam karangan. Kriteria yang digunakan dikelas IX SMP Negeri 1 Lainea adalah kemampuan belajar secara klasikal dan kemempuan belajar secara individual . siswa dikatakan mampu belajar individual jiak mempunyai ketuntasa 65% sedangkan kemampuan klasikal jika secara keseluruhan siswa mempunyai rata- rata kemempuan 85 %( Dekdikbud).
2.1 pengertian Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang laindapat membaca lambang- lambang grafik trsebut kalau mereka memahami bahasa da lambang- lambang garfik tersebut (Tarigan, 1982:21).
Takala( dalam Ahmadi, 1999:24) berpendapat bahwa kegiatan menulis di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah suatu proses menyusun , mencatat dan mengkomunikasikan makna dalam tatanan ganda, bersifat interaktif dan di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan suatu tanda sistem konvensional yang dapat dilihat (dibaca) demi tercapainya tujuan tulisan itu,maka kadang kala guru memberikan pemahaman bahwa kegiatan menulis sangat berguna bagi kehidupan siswa untuk mengungkpkan perasaan atau emosi yang sesuai dengan menggunkan bahasa dalam mengungkapkan ide, pikiran dan pengalamanya melalui kegiatan menulis.
Berbeda yang dikemukakan oleh Tarigan, dengan syafi’ie (1988:45), berpendapat bahwa menulis itu pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, kemauan dan informasi ke dalam tulisan dan kemudian mengemukakanya kepada oranga lain. Pendapat itu sejalan dengan dikemukakan oleh Widyamartaya (1990:9) bahwa menulis dengan keseluruhan rangakaian kegiatan dengan seseorang, mengungkapkan gagasan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk di pahami seara tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.
2.2 Kalimat
menurut Keraf (1984:167) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukan bagian ujaran yang lengkap. Chaer (1998:377), kalimat adalah satuan bahasa yang berisikan pikiran atau amanat yang lengkap.
Di samping itu juga kalimat ditentukan berdasarkan arti yaitu subjek (S) dijelaskan sebagai atau sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dan predikat (P) sebagai unsur kalimat yang membincarakan subjek, objek (O) dijelaskan sebagai unsur kalimat yang menderita akibat tindakan tersebut kepada predikat dan keterangan (K) dijelaskan unsur kalimat ynga memberi keterangan kepada predikat( Ramlan, 1987: 13).
2.3 Unsur- unsur Kalimat
Keefektifan suatu kalimat ditentukan pula oleh unsur kalimat yang dikembangkan serta kejelasan masing-masing unsur kalimat. Unsur- unsur kalimat yang dimaksudkan adalah senbagaimana dikemukakan oleh Razak (1992:37) seperti dibawah ini:
2.3.1 Subjek
Subjek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Lebih lanjut, bagian subjek kehadiranya ada yang berupa kata ada pula yang berupa kelompok kata(frasa).
Contoh subjek berupa kata:
Saya sudah mulai diproses oleh pihak yang berwajib.
Contoh subjek berupa kata:
Seekor serigala tiba-tuba muncul dihadapanku.
2.3.2 Predikat
Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subjek itu. Seperti halnya juga subjek, kehadiran predikat ada ynag berupa kata, ada juga yang berupa frasa.
Contoh predikat yang berupa kata:
Budi mengangkat sebuah batu besar dengan tangnnya.
Contoh predikat yang berupa frasa:
Siswa-siwa itu mencoba memehami penjelasan pak guru
2.3.3 Objek
Kalau bagian subjek dan predikat kebanyakan muncul secara eksplisit dalam kalimat, bagian objek tidakalah demikian halnya.tergantung pada jenis predikat kalimat.
Conth objek yag berupa kata:
Saya sedang menimba ilmu di sekolah ini .
Contoh objel berupa frasa:
Kami ditugasi membaca majalah sastra
2.3.4 Pelengkap
Pelengkap pada dasranya mirip dngan objek, yaitu sama-sama terletak dibagian belakang predikat dan berkelas kata nomina. Perbedaanya objek dapat beruabah menjadi subjek sehinnga predikatnya berawalan pelengkap tidak dapat menjadi subjek.
Contoh:
Lewis memukul Tyson=objek
Hal itu merupakan masalah besar= pelengkap
2.3.5 Keterangan Kalimat
Berdasarkan fungsinya daam kalimat keterangan dapat dibedakan:
1. Keterangan kualitas
Contoh: penyanyi itu memnyanyi dengan suara yang merdu
2. Keterangan tujuan
Contoh: mereka berlatih keras agar mendapat hasil yang maksimal
3. Keterangan alat:
Contoh: lautan itu diseberangi dengan perahu
4. Keterangan waktu
Contoh: penjahat itu sempat lari ke daerah terpencil
5. Keterangan waktu
Contoh: Budi sarapan sebelum dia berangkat ke sekolah.
2.4 Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampaun untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada didalam pikiran pembaca dan penulis. Kalimat efektif sangat mengutamakan keefektifan informasi sehinnga kejelasan kalimat itu dapat terjamin
2.4.1 kesepadanan
Kesepadanan yaitu keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik (Mukti, 2002:8)
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti yang tercantum di bawah ini:
1. Kalimat ini mempunyai subjek dan predikat dengan jelas yang efektif.
Contoh:semua siswa di sekolah ini harus membayar uang SPP
2. Tidak terdapat subjek yang ganda
3. Kata penghubung anatar kalimat tidak dipaki pada kalimat tunggal
4. Kaliamt tidak di dahului oleh kata yang
2.4.2 Kesejajaran
Keefektifan kalimat banyak juga ditentukan oleh kesejajaran atau keparalelan bagian- bagian atau unsur- unsur yang terdapat dalam kalimat. Contoh:
Para peserta diskusi membaca makalah, memahami isinya, dan pembuatan sinopsis makalah yang diterimanya( kalimat tersebut tidak efektif kareana menggunakan gramatikal yang tidak sejajar. Seharusnya:
Para peserta diskusi membaca makalah, memahami isinya , dan membuat sinopsis makalah yang diterimanya
2.4.3 Kehematan
Ada beberapa hala ynag harus diperhatikan dalam penghematan kalimat:
1. penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek
2. penghematan dapat dilakukan denagan cara menghindarkan kesinoniman dalam suatu kalaimat
3. penghematan dapat dilakukan denagn cara menjamakan kata-kata yang berbentuk jamak
2.4.4 Kecermatan
Cermat adalah bahwa kalimat tersebut tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kalimat. Contoh:
Mahasiwa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah, seharusnya
Mahasiswa yang terkenal itu menerima hadiah
2.4.5 Kepaduan
Kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan peryataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
2. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen+ verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikat pasif persona
3. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipak sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita
2.4.6 kelogisan
kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat ditrima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaanyang berlaku.
contoh: a. Waktu dan tempat kami persilahkan
yang logis adalah sebagai berikut
a. Bapak bupati kami persilahkan
2.4.7 Kelengkapan
Soedijito, 1990: 95 mengatakan bahewa keefektifan suatu kalimat ditentukan pula oleh pola unsur kalimat. Kelengkapan unsur kalimat meliputi beberapa hal:
(a) Subjek tidak di dahului karta depan
1. Dalam masyarakat Tolaki tidak mengenal sistem religi (tidak bersubjek)
Kalimat di atas tidak lengkap, supaya lengkap kalimat tersebut harus diubah menjadi:
1. Masyarakat Tolaki tidak mengenal sistem religi
(b) Predikat bkalimat jelas
Kalimat yang tidak berpredikat juaga tidak disebut kalimat yang efektif, karena unsur- unsur yang mendasari tidak lengkap
1. Beberapa mahasiswa di luar kelas (tidak efektif)
2. Bebarapa mahasiswa berada di luar kelas( efektif)
(c) Bagian kalimat majemuk tidak dipenggal
1. Pembangunan ruangan kelas belum dilaksanakan. Karena dana yang diusulkan belum turun
Kalimat dapat diubah menjadi:
1. Pembangunan ruangan kelas belum dilaksanakan karena dan yang diusulkan belum turun
2.4.8 Pilihan Kata( Diksi)
Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata yang mana dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan , bagaimana membentuk pengelompokkan kata- kata yang tepat atau menggunakan ungkapan- ungkapan yang tepat, dan gaya mana ynag paling digunakan dalam suatu kalimat.
Berdasarkan pemaparan tersebut mengenai ciri-ciri kalimat efektif , peneliti hanya membatasi empat aspek yang akan di teliti yaitu (1) aspek kelengkapan; (2) aspek kehematan; (3)aspek kelogisan; (4) aspek pilihan kata atau diksi. Peneliti hanya meneliti empat aspek sebab dalam pengajaran bahasa indonesia untuk kalimat efektif di sekolah SMP Negeri I Lainea keempat aspek tersebutlah yang paling di tonjolkan dalam pengajaran kalimat efektif.
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam peneliti ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Istilah deskriptif mengisyaratkan bahwa penelitian yang dilakukan semata- mata hanya untuk memberikan gambaran berdasarkan fakta atau fenomena kemampuan siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea dalam menulis kalimat efektif yang ditemukan di lapangan. Istilah kuantitaf mengisyaratkan bahwa data dalam penelitian ini merupakan angka – angka dan diolah berdasarkan prinsip- prinsip statistik.
3.1.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan. Karena peneliti terlibat langsung dilapangan atau ke sekolah tempat sampel untuk mengumpulkan data penelitian.
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Jenis Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea yang tertdiri atas lima kelas yaitu IX A,IX B, IX C, IX D, dan IX E.
NO Nilai Jumlah Siswa
1. 50
33
2. 60 69
3. 70 40
4. 80 15
jumlah 157
Sumber : daftar nilai kelas IX SMP Negeri 1 Lainea
3.2.2 Sampel Penelitian
Tabel 2
Keadaan sampel
No Nilai Jumlah siswa Jumlah sampel
1 50 33 17
2 60 69 35
3 70 40 20
4 80 15 8
jumlah 157
80
3.3 Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen tes tertulus yang berbentuk karangan, yaitu memberikan topik karangan untuk di kembangkan menjadi sebuah karangan, hasil pemberian tugas mengarang kepada responden itulah akan diperoleh data penelitian. Agar siswa lebih komunakatif, maka diteneukan petunjuk penulisan karangan sebagi berikut:
1. Tuliskan identitas Anda di sudut kanan pada lembar pekerjaan Anda
2. Buatlah kalimat efektif dalam karangan
3. Panjang karangan minimal empat paragraf yang didalam paragraf sudah terdapat kalimat paragraf
4. Setiap paragraf hendaknya memiliki tiga kalimat, jadi jumalh paragraf dalam empat paragraf minimal 12 kalimat
5. Waktu yang diberikan untuk menyusun karangan tersebut adalah 2 x 40 menit (2 jam pelajran)
6. Pilihlah salah satu topik karangan berikut ini kemudian kembangkan menjadi sebuah karangan utuh
a. Bencana alam
b. Manfaat perpustakaan.
c. Manfaat surat kabar.
d. Lingkungan.
e. Rencana setelah lulus SMP
3.4 Pengoreksian Data
Langkah-langakah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memberi kode pada setiapa lembar kerja sisiwa dengan memberi nomor urut
2. Mengoreksi karangan siswa, karena ada mungkin sebagian kata atau kalimat tidak terbaca.
3. Mengoreksi setiapa kalimat untuk menentukan unsur kelengkapan kalimat, kehematan, plihan kata (dikisi) yang tepat serta kelogisan kalimat dengan rambu-rambu kriteria sebagai
4. Apabila panjang karangan tidak mencukupi 4 paragraf maka pekerjaan siswa tidak diperiksa
5. Jika jumlah karangan tidak mencukupi 12 kalimat maka pekerjaan siswa tersebut tidak diperiksa
Untuk mengetahui kemampuan siswa membuat kalimat efektif dalam karangan dihitung dengan rumus sebagai sebagai berikut:
= skor perolehan x 100% Skor maksimum
3.5 Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan, selanjutnya diolah menggunakan teknik statistik deskriptif kuantitatif dengan presentase. Untuk mengetahui kemempuan siswa dalam menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa IX SMP Negeri 1 Lainea baik secra indivudu maupun klasikal dapat dilihat penggunaan rumus pada uraian berukit ini:
Rumus ynag dipakai untuk menentukan presentase kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan secara individual adalah:
KI = Skor perolehan x 100% Skor maksimum
Untuk lebih jelasanya, berikut adalah tabel nilai kemampuan:
Penilaian Kemampuan Individual
Kemampuan Skor Presentasi kemampuan
Mampu 11-16 68, 75%- 100%
Tidak mampu 1-10 6, 25%- 62,5 %
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis data secara kuantitatif kalimat efektif pada karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea menggunakan data statistik atau angka- angka. Deskriptif hasil analisis data secara kuantitatif kalimat efektif berdasarkan aspek kelengkapan, kehenmatan, kelogisan, dan diksi kalimat.
4.1 Data Hasil Penelitian
Tabel
Hasil Penelitian Skor USeluruh Aspek dalam Menggunakan Kalimat Efektif dalam
Karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Lainea
No.Urut responden Skor per aspek TOTAL PERSENTASE (%) KEMAMPUAN
U H D L M TM
1 3 1 1 2 7 43,75%
2 1 3 3 2 10 62,5%
3 1 1 2 2 6 37,5%
4 3 2 2 3 10 62,5%
5 3 3 2 4 12 62,5%
6 3 3 3 3 12 75%
7 3 2 2 3 10 75%
8 1 1 1 1 4 62,5%
9 1 1 1 3 6 25%
10 2 2 3 3 10 62,5%
11 3 2 1 3 9 56,25%
12 3 3 4 4 14 62,5%
13 3 2 1 3 9 56,25%
15 3 1 2 3 9 56,25%
16 2 3 3 4 12 75%
17 1 1 2 3 7 43,75%
18 1 1 1 3 6 37,5%
19 3 3 3 4 13 81,25%
20 2 1 3 3 9 56,25%
21 2 2 2 4 10 62,5%
22 3 3 3 3 12 75%
23 3 1 1 3 8 50%
24 3 3 4 2 12 75%
25 2 3 1 4 10 50%
26 3 3 4 3 12 81,25%
27 2 1 1 1 5 31,25%
28 2 1 1 1 5 31,25%
29 2 3 2 3 10 62,5%
30 3 3 3 1 10 62,5%
31 2 1 1 2 6 37,5%
32 2 1 1 1 5 31,25%
33 2 1 1 1 5 31,25%
34 2 2 3 3 10 62,5%
35 2 1 1 1 7 43,75%
36 2 1 1 2 6 37,5%
37 2 2 2 3 9 56,25%
38 2 1 1 2 6 37,5%
39 2 3 3 2 10 62,5%
40 2 2 2 1 7 43,75%
42 2 1 1 2 6 37,5%
43 2 2 2 2 8 50%
44 3 3 2 2 10 62,5%
45 1 1 1 2 5 31,25%
46 2 1 2 2 7 43,75%
47 3 3 2 2 10 62,5%
48 2 1 2 2 7 43,75%
Keterangan:
U: kelengkapan M: mampu
H: kehematan TM: Tidak Mampu
L: kelogisan
D: diksi
Berdasarkan data pada tabel di atas, terliaht bahwa persentase nilai kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan sebagian besar sangat rendah. Secra keseluruhan, total skor terendah dicapai oleh responden adalah 14 (87,5%).
4.2 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa Per Aspek
4.2.1 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Kelengkapan
Dapat dijelaskan bahwa di antara 48 responden yang dijadikan sampel penelitian terdapat 19 responden yang mencapai nilai kemempuan minimal 65% dengan rincian sebagai berikut : 1 responden (2,08) yang memperoleh skor 4 dengan nila respondeni 100, 18 responden (37,5%) yang memperoleh skor 3 dengan nilai 75, 22 responden(45,83%) yang memperoleh skor 2 dengan 50, sisa responden yakni 7 responden (14,58%) memperoleh skor 1 dengan nilai 25.
4.2.2 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan pada Aspek Kehematan
Berdasarkan hasil pengolahan data tentang kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan aspek kehematan, menunjukan skor yang diperoleh berkisar anatara 1-3. Diperoleh skor vdan nilai aspek kehematan menunjukan bahwa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu menggunakan kalimat efektif dalam karangan. Karena pada as[ek kehematan 27,08% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.2.3. Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Kelogian
Berdasarkan hasil pengolahan data tentang kememuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan pada aspek kelogisan menunjukkan bahwa siswa kelas IX SMP Kelas I Lainea tidak mampu dalam mengguanakan kalimat efektif dalam karangan. Dikatakan demikian, karena kemempuan SMP Negeri I Lainea kelas IX pada kelogisan mencapai 47,91% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.1.4 Deskripsikan Kemampuan Menggunakan Kaliamt Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Pilihan Kata (Diksi)
Deskripsi perolehan skor dan nilai pada aspek pilihan kata menunjukkan bahwa siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu dalam menggunakan kalimat efektif dalam karangan. Karena, kemampuan SMP Negeri I Lainea kelas IX pada aspek pilihan kata mencapai 25% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.3.1. Analisis Keseluruhan Aspek Penelitian
Berdasarkan uraian yang diuraika sebelumya, maka kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri I Alinea , dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Kemampuan menggunakan kalimat efektif siswa kelas IX SMP Negeri I Alinea pada aspek kelengkapan secara klasikal di kategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 35, 33% yakni belum mencapai kriteria kemampuan minimal 85%
2. Pada aspek kehematan secra klasikal dikategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 13% yakni belum mencapai kemampuan minimal 85%
3. Pada aspek kelogisan dikategorikan tidak mampu karena hanya memeroleh nilai 47,9% belum mencapai kemampuan minimal 85%
4. Pada aspek pilihan kata secara klasikal dikategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 25% yakni belum mencapai kriteria kemampuan minimal 85%
4.3. Interprestasi Hasil penelitian
1. Kelengkapan Unsur Kalimat
Data sebagian kalimat tidak lengkap unsur kalimatnya dalam karangan siswa.
a. Dan pada keesokan harinya, kerusakan-kerusakan tersebut ternyata telah ditangani oleh pemerintah. Tidak lengkap karena pemakaian kata (dan) pada awal kalimat
b. Dan Aku pun berkata “ Aku mencintai lingkunganku!”. Kalimat tersebut diperbaiki menjadi: Aku pun berkata “ Aku mencintai lingkunganku!”
2. Kehematan
Data sebagian kalimat tang tidak hemat dalam karangan siswa adalah sebagai berikut:
a. Akhirnya, setelah sebulan berlalau akhirnya limgkungan kami juga telah bersih, indah, juga , nyaman.
Kaliamat di atas tidak hemat diperbaiki menjadi:
a. Akhirnya, setelah sebulan berlalu lingkungan kami juga telah bersih, indah juga nyaman.
3. Kelogisan
Keefektifan klaimat terpenuhi apabila kalimat ynag digunakan mendukung kelogisan dalam klaimat.
a. Kamu biasa mendapat nilai yang bagus dari buku-buku perpustakaan itu. Kalimat tersebut tidak logis karena nilai ynag bagus hanya dapat di berikan oleh guru bukan dari buku-buku perpustakaan. Buku per[ustakaan hnay memberikan kita ilmu.
4. Pilihan Kata
Data sebagian kalimat yang tepat penggunaan diksinya dalam karangan siswa adalah sebagi berikut:
a. Setelah sudah dekat ulangan Gilang belajar giat terus sampe-sampe susi dikal belajarnya sama Gilang, karena dia senang membaca buku perustakaan
Kalimat di atas tidak tepat penggunaan diksinya karena menggunakan kata yang tidak baku dalam kalimat’ setelah sudah dekat’ dan kata ‘ sampe-sampe’. Kalimat tersebut menjadi: Menjelang ulangan, Gilang belajar giat bahkan dapat mengalahkan Susi, karena dia senang membaca buku perpustakaan.
Berdasarkan pengamatan peneliti selama mengadakan penelitian, ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu menggunakan kalimat dengan efektif dalam karangan antara lain:
1. Siswa jarang sekali berlatih menuliskan kalimat efektif
2. Kosa kata yang mereka kuasai sangat sedikit sehingga pilihan kata yang mereka gunakan kadang- kadang tidak efektf
3. Siswa menganggap remeh bahwa menulis kalimat itu gampang tanpa melihat struktur kalimatnya sehingga bnyak kalimat yang tidak lengkap yang menyebabkan kalimat tersebut tidak efektif
4. Pembelajaran gru yang bel;um maksimal mengenai pembelajaran kalimat efektif sehingga siswa kurang memahami cara menggunakan efektif dal;am karangan
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, dari empat aspek yang diteliti tentang kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea, terdapat :
a. Pada aspek kelengkapan, menunjukan bahwa pada 48 responden siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea 19 responden (39,58%) masuk dalam kategori mampu, sedangkan 31 responden (64,58%) masuk dalam, kategori tidak mampu
b. Pada aspek kehematan 13 responden( 27,08%) mampu, 35 responden (72,91%) tidak mampu
c. Pada aspek kelogisan 23 responden (47,91%) masuk dalam kategori tidak mampu
d. Pada aspek pilihan kata diksi 12 responden(25%) masuk kategori mampu, 36 responden(75%) dalam kategori tidak mampu
5.2 Saran- saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
1. Saran kepada siswa
Siswa hendaknya belajar blebih baik tentang penggunaan kalimat bahasa indonesia yang efektif, baik bahasa lisan maupuj dalam tulis
2. Saran kepada guru
Pada guru SMP Negeri I Lainea, khususnya guru bahasa indonesia dan satra perlu meningkatkan latihan bahasa tulis( mengarang) untuk sampel (obyek) dengan menggunakan kalimat efektif yang meliputi kelengkapan, kehematan, kelogisan, serta pilihan kata yang tepat (diksi), sehingga hasil karangan siswa akan lebih baik ada masa-masa yang akan datang
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2001. Bahasa penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Ahmadi , Muksin. 1991. Penyusunan dan Pengembangan Paragraf Serta Penciptaan Gaya Bahasa. Malang : YA 3 Malang.
Arikunto , Suharsimi. 2001. Prosedur penelitian. Jakarta . Rineka Cipta.
Chaer , Abdul. 1988. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Bharata Karya Aksara .
Depdikbud. 1994. Kurikiulum Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Depdikbud.
Keraf , Gorys. 1980. Tata bahasa indonesia. Flores : Nusa Indah.
Mukti. 2002. Pengembangan Paragraf , Kalimat Efektif, Pilihan Kata( diksi) dan Tata Tulis (Ejaan). Bandung : Angkasa
Muliono , Anton. 1997. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta: Djambatan
Parera, Jos Daniel. 1987. Sintaksis : ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta
Razak, Abdul . 1992. Kalimat efektif (struktur , gaya dan variasi). Jakarta : Gramedia Pustak Alam
Rusyana , Yus. 1988. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan pendidikan. Bandung : Diponegoro.
Sande. 1991. Morfologi dan sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.
Sirait, Bistok. 1986. Pedoman Karang Mengarang. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Soedjito. 1990. Kalimat Efektif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta : Depdikbud.
Tarigan , H.G. 1985. Pengajaran sistematis, Bandung Angkasa
NAMA : JULIA
NOMOR STAMBUK : A1D1 06 089
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JUDUL PENELITIA :KEMAMPUAN MENGGUNAKAN KALIMAT EFEKTIF DALAM KARANGAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LAINEA
DOSEN PEMBIMBING : PEMBIMBING I : Drs. La Yani Konisi, M.Hum
PEMBIMBING II : Drs. Fahrudin Hanafi, M.pd
Tahun skripsi : 2011
ABSTRAK
1. PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
1.2 kajian teori
2. METODE PENELITIAN
3. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataaan bahwa materi kalimat efektif merupakan salah stau materi pelajaran bahasa indonesia di sekolah menengah pertama, sehingga perlu mendapat perhatiah karena penguasaan kalimat efektif siswa dapat berimplikasi pada penggunaan bahasa indonesia untuk berkomunikasi lisan baik tertulis. Berdasarkan kenyataan tersebut maka masalah yang diangkat dalam penelitain ini adalah “ Bagaimanakah Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif Dalam Karangan Siswa IX SMP Negeri 1 Lainea?”
Tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Lainea. Manfaat yang diharapkan adalah (1) dapat memberikan informasi faktual mengenai Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa IX SMP Negeri 1 Lainea; (2) sebagai gbahan masukan sebagai guru bahasa dan sastra indonesia dalam rangka peningkatan kualitas pengajaran bahasa indonesia khususnya pengajaraa kalaimata efektif di kelas IX Negeri Lainea: (3) hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam usaha- usaha penelitian lanjutan yang sifatnya lebih luas dan mendalam
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu tes tertulis.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 48 responden dalam penelitian ini dapat menyusun kaliamat sebanyak 716 kalimat. Dari jumlah tersebut kalimat yang efektif dari aspek kelengkapan sebanyak 440 kailmat (61,45%); dari aspek kehematan sebanyak 374 kalimat (52,25%); dari aspek kelogisan sebanyak 383 kalimat (53,49%); dari aspek pilihan kata sebanyak 482 (67,31).
Penguasaan materi berdsarkan komponen kalimat efektif diketahui bahwa (1) secara individual sebanyak 17 responden atau 35,33 % dikatakan mampu pada aspek kelengkapan, (2) sebanyak 13 responden atau 27,08% dikatakan mampu pada aspek kehematan (3) sebanyak 22 responden atau 25% dikatakan mampu pada aspek pilohan kata(diksi)
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Kemapuan Menulis Kalimat Efektif Siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea secara klasikal berada dalam kategori tidak mampu, karena tidak mencapai 85% yang mempunyai 65%. Dalam hal ini hanya mencapai 16,67% (8 responden).
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahn dengan sikap terbuka. Dengan kata lain, pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)
Sasaran dibidang pendidikan diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan itu sendiri, baik pada pendidikan formal maupun pada lembaga pendidikan nonfarmal. Untuk meningkatkan mutu pendidikan ini, maka perlu adanya upaya untuk peningkatan metode pengajaran, sebab mengajar merupakan tantanga ynag dihadapi setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan pendidikan. Banyak upaya yang dilakukan, banyak pula keberhasilan yang tekah dicapai meskipun disadari bahwa apa yang belum dicapai belum sepenuhnya memberikan prestasi yang menggembirakan sehingga menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras untuk mmecahkan masalah- masalh yang dihadapai dalam bidang pendidikan h=khusunya dalma sekolah Menengan Pertama (SMP).
Di dalam masyarakat medern seperti sekarang ini makin dirasakan potensi sebagai alat komunikasi. Dalam berintegrasi dengan masyarakat di sekeliling mesti menggunakan bahsa sebagai mediumnya. Semua orang menyadari bahwa intereaksi dan segala kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Kemampuan siswa SMP menggunakan bahsa indonesia sevara baik dan benar merupakn kunci kelancaran dan kesempurnaan dalam proses komunikasi.
Berdasarkan pernyataat tersebut , masalah kalimat merupaan hal yang penting dan harus dikuasai oleh siswa SMP. Namun kenyataanya, pemahaman siswa terhadap kalimat efektif belum menunjukan hasil yang baik.
Kalimat dikatakan efektif, apabila mampu membuat proses penyampaian dn penerimaan itu berlangsung secara sempurna , kalimat efektif mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran si penerima(pembaca), persis yang disampaikan oleh penulis.
Pembelajaran kalimat efektif bedasarkan kurikulum berbasis kompetensi di SMP kelas IX memuat kompetensi dasar menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, ketrpaduan paragraf, dan kebulatan wacana. Oleh karena itu, perlu mendapat perhatian serius dalam pembelajaran bahasa indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengadakan kajian terhadap kemampuan siswa dlam menulis kalimat efektif.
Khususnya di SMP Negeri 1 Lainea, setelah dilakukan observasi awal diperolh informasi bahwa kemampuan siswa dalam menulis kalimat efektf belu mampu, untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri I Lainea khusunya opada aspek kelengkaoan, kehematan, kelogisan dan pilihan kata.
1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi masalah dalam peneltain ini adalah “ Bagaimanakah kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea?”
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemempuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Dapat memberikan informasi faktual mengenai kemempuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa IX SMP Negeri 1 Lainea
2. Sebagai bahan masukan guru abhasa dan asatra indonesia dalam rangaka peningkatan kualitas pengajaran bahsa indonesia khususnya pengajaran kalimat efektif di kelas IX SMP Negeri 1 Laine
3. Hasil penelitian ini digharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam usaha- uasa penelitian lanjutan yang sifatnya lebih luasn dan mendalam.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Kalimat Efektif di Kelas IX SMP Berdasarkan Kurikiulkum Tingkat Satuan Pendidikan
Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan pembelajaran struktur kalimat bahasa indonesia adalah agar siswa SMP dapat memahami dan menafsirkan makna kalimat bahasa indonesia yang disesuaikan makna kalimat bahsa indonesia yang disesuaikan dlam konteks dan situasi. Purwo (1997:9) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran stuktur kalimat bahasa indonesia adalah untuk memperlihatkan suatu sistem susunan kalimat bahasa indonesia atas fungsi- fungsinya, seprti subjek, predikat, objek dan keterangan, dengan mengetahui fungsi- fungsi kalimat itu seorang siswa SMP dapat membuat kaliamat yang baik dan banar
Pembelajaran kalimat efekti berdasarkan kirikulum berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas IX memuat kompetensi dasar menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf dan kebulatab wacana.
Untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis kalimat efektif digunakan analisis keseluruhan terhadap seluruh pelajaran yaitu kemempuan menulis kalimat efektif dalam karangan. Kriteria yang digunakan dikelas IX SMP Negeri 1 Lainea adalah kemampuan belajar secara klasikal dan kemempuan belajar secara individual . siswa dikatakan mampu belajar individual jiak mempunyai ketuntasa 65% sedangkan kemampuan klasikal jika secara keseluruhan siswa mempunyai rata- rata kemempuan 85 %( Dekdikbud).
2.1 pengertian Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang laindapat membaca lambang- lambang grafik trsebut kalau mereka memahami bahasa da lambang- lambang garfik tersebut (Tarigan, 1982:21).
Takala( dalam Ahmadi, 1999:24) berpendapat bahwa kegiatan menulis di dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah suatu proses menyusun , mencatat dan mengkomunikasikan makna dalam tatanan ganda, bersifat interaktif dan di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan suatu tanda sistem konvensional yang dapat dilihat (dibaca) demi tercapainya tujuan tulisan itu,maka kadang kala guru memberikan pemahaman bahwa kegiatan menulis sangat berguna bagi kehidupan siswa untuk mengungkpkan perasaan atau emosi yang sesuai dengan menggunkan bahasa dalam mengungkapkan ide, pikiran dan pengalamanya melalui kegiatan menulis.
Berbeda yang dikemukakan oleh Tarigan, dengan syafi’ie (1988:45), berpendapat bahwa menulis itu pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, kemauan dan informasi ke dalam tulisan dan kemudian mengemukakanya kepada oranga lain. Pendapat itu sejalan dengan dikemukakan oleh Widyamartaya (1990:9) bahwa menulis dengan keseluruhan rangakaian kegiatan dengan seseorang, mengungkapkan gagasan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk di pahami seara tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.
2.2 Kalimat
menurut Keraf (1984:167) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukan bagian ujaran yang lengkap. Chaer (1998:377), kalimat adalah satuan bahasa yang berisikan pikiran atau amanat yang lengkap.
Di samping itu juga kalimat ditentukan berdasarkan arti yaitu subjek (S) dijelaskan sebagai atau sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dan predikat (P) sebagai unsur kalimat yang membincarakan subjek, objek (O) dijelaskan sebagai unsur kalimat yang menderita akibat tindakan tersebut kepada predikat dan keterangan (K) dijelaskan unsur kalimat ynga memberi keterangan kepada predikat( Ramlan, 1987: 13).
2.3 Unsur- unsur Kalimat
Keefektifan suatu kalimat ditentukan pula oleh unsur kalimat yang dikembangkan serta kejelasan masing-masing unsur kalimat. Unsur- unsur kalimat yang dimaksudkan adalah senbagaimana dikemukakan oleh Razak (1992:37) seperti dibawah ini:
2.3.1 Subjek
Subjek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Lebih lanjut, bagian subjek kehadiranya ada yang berupa kata ada pula yang berupa kelompok kata(frasa).
Contoh subjek berupa kata:
Saya sudah mulai diproses oleh pihak yang berwajib.
Contoh subjek berupa kata:
Seekor serigala tiba-tuba muncul dihadapanku.
2.3.2 Predikat
Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subjek itu. Seperti halnya juga subjek, kehadiran predikat ada ynag berupa kata, ada juga yang berupa frasa.
Contoh predikat yang berupa kata:
Budi mengangkat sebuah batu besar dengan tangnnya.
Contoh predikat yang berupa frasa:
Siswa-siwa itu mencoba memehami penjelasan pak guru
2.3.3 Objek
Kalau bagian subjek dan predikat kebanyakan muncul secara eksplisit dalam kalimat, bagian objek tidakalah demikian halnya.tergantung pada jenis predikat kalimat.
Conth objek yag berupa kata:
Saya sedang menimba ilmu di sekolah ini .
Contoh objel berupa frasa:
Kami ditugasi membaca majalah sastra
2.3.4 Pelengkap
Pelengkap pada dasranya mirip dngan objek, yaitu sama-sama terletak dibagian belakang predikat dan berkelas kata nomina. Perbedaanya objek dapat beruabah menjadi subjek sehinnga predikatnya berawalan pelengkap tidak dapat menjadi subjek.
Contoh:
Lewis memukul Tyson=objek
Hal itu merupakan masalah besar= pelengkap
2.3.5 Keterangan Kalimat
Berdasarkan fungsinya daam kalimat keterangan dapat dibedakan:
1. Keterangan kualitas
Contoh: penyanyi itu memnyanyi dengan suara yang merdu
2. Keterangan tujuan
Contoh: mereka berlatih keras agar mendapat hasil yang maksimal
3. Keterangan alat:
Contoh: lautan itu diseberangi dengan perahu
4. Keterangan waktu
Contoh: penjahat itu sempat lari ke daerah terpencil
5. Keterangan waktu
Contoh: Budi sarapan sebelum dia berangkat ke sekolah.
2.4 Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampaun untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada didalam pikiran pembaca dan penulis. Kalimat efektif sangat mengutamakan keefektifan informasi sehinnga kejelasan kalimat itu dapat terjamin
2.4.1 kesepadanan
Kesepadanan yaitu keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik (Mukti, 2002:8)
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti yang tercantum di bawah ini:
1. Kalimat ini mempunyai subjek dan predikat dengan jelas yang efektif.
Contoh:semua siswa di sekolah ini harus membayar uang SPP
2. Tidak terdapat subjek yang ganda
3. Kata penghubung anatar kalimat tidak dipaki pada kalimat tunggal
4. Kaliamt tidak di dahului oleh kata yang
2.4.2 Kesejajaran
Keefektifan kalimat banyak juga ditentukan oleh kesejajaran atau keparalelan bagian- bagian atau unsur- unsur yang terdapat dalam kalimat. Contoh:
Para peserta diskusi membaca makalah, memahami isinya, dan pembuatan sinopsis makalah yang diterimanya( kalimat tersebut tidak efektif kareana menggunakan gramatikal yang tidak sejajar. Seharusnya:
Para peserta diskusi membaca makalah, memahami isinya , dan membuat sinopsis makalah yang diterimanya
2.4.3 Kehematan
Ada beberapa hala ynag harus diperhatikan dalam penghematan kalimat:
1. penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek
2. penghematan dapat dilakukan denagan cara menghindarkan kesinoniman dalam suatu kalaimat
3. penghematan dapat dilakukan denagn cara menjamakan kata-kata yang berbentuk jamak
2.4.4 Kecermatan
Cermat adalah bahwa kalimat tersebut tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kalimat. Contoh:
Mahasiwa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah, seharusnya
Mahasiswa yang terkenal itu menerima hadiah
2.4.5 Kepaduan
Kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan peryataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
2. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen+ verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikat pasif persona
3. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipak sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita
2.4.6 kelogisan
kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat ditrima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaanyang berlaku.
contoh: a. Waktu dan tempat kami persilahkan
yang logis adalah sebagai berikut
a. Bapak bupati kami persilahkan
2.4.7 Kelengkapan
Soedijito, 1990: 95 mengatakan bahewa keefektifan suatu kalimat ditentukan pula oleh pola unsur kalimat. Kelengkapan unsur kalimat meliputi beberapa hal:
(a) Subjek tidak di dahului karta depan
1. Dalam masyarakat Tolaki tidak mengenal sistem religi (tidak bersubjek)
Kalimat di atas tidak lengkap, supaya lengkap kalimat tersebut harus diubah menjadi:
1. Masyarakat Tolaki tidak mengenal sistem religi
(b) Predikat bkalimat jelas
Kalimat yang tidak berpredikat juaga tidak disebut kalimat yang efektif, karena unsur- unsur yang mendasari tidak lengkap
1. Beberapa mahasiswa di luar kelas (tidak efektif)
2. Bebarapa mahasiswa berada di luar kelas( efektif)
(c) Bagian kalimat majemuk tidak dipenggal
1. Pembangunan ruangan kelas belum dilaksanakan. Karena dana yang diusulkan belum turun
Kalimat dapat diubah menjadi:
1. Pembangunan ruangan kelas belum dilaksanakan karena dan yang diusulkan belum turun
2.4.8 Pilihan Kata( Diksi)
Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata yang mana dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan , bagaimana membentuk pengelompokkan kata- kata yang tepat atau menggunakan ungkapan- ungkapan yang tepat, dan gaya mana ynag paling digunakan dalam suatu kalimat.
Berdasarkan pemaparan tersebut mengenai ciri-ciri kalimat efektif , peneliti hanya membatasi empat aspek yang akan di teliti yaitu (1) aspek kelengkapan; (2) aspek kehematan; (3)aspek kelogisan; (4) aspek pilihan kata atau diksi. Peneliti hanya meneliti empat aspek sebab dalam pengajaran bahasa indonesia untuk kalimat efektif di sekolah SMP Negeri I Lainea keempat aspek tersebutlah yang paling di tonjolkan dalam pengajaran kalimat efektif.
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam peneliti ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Istilah deskriptif mengisyaratkan bahwa penelitian yang dilakukan semata- mata hanya untuk memberikan gambaran berdasarkan fakta atau fenomena kemampuan siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea dalam menulis kalimat efektif yang ditemukan di lapangan. Istilah kuantitaf mengisyaratkan bahwa data dalam penelitian ini merupakan angka – angka dan diolah berdasarkan prinsip- prinsip statistik.
3.1.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan. Karena peneliti terlibat langsung dilapangan atau ke sekolah tempat sampel untuk mengumpulkan data penelitian.
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Jenis Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea yang tertdiri atas lima kelas yaitu IX A,IX B, IX C, IX D, dan IX E.
NO Nilai Jumlah Siswa
1. 50
33
2. 60 69
3. 70 40
4. 80 15
jumlah 157
Sumber : daftar nilai kelas IX SMP Negeri 1 Lainea
3.2.2 Sampel Penelitian
Tabel 2
Keadaan sampel
No Nilai Jumlah siswa Jumlah sampel
1 50 33 17
2 60 69 35
3 70 40 20
4 80 15 8
jumlah 157
80
3.3 Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen tes tertulus yang berbentuk karangan, yaitu memberikan topik karangan untuk di kembangkan menjadi sebuah karangan, hasil pemberian tugas mengarang kepada responden itulah akan diperoleh data penelitian. Agar siswa lebih komunakatif, maka diteneukan petunjuk penulisan karangan sebagi berikut:
1. Tuliskan identitas Anda di sudut kanan pada lembar pekerjaan Anda
2. Buatlah kalimat efektif dalam karangan
3. Panjang karangan minimal empat paragraf yang didalam paragraf sudah terdapat kalimat paragraf
4. Setiap paragraf hendaknya memiliki tiga kalimat, jadi jumalh paragraf dalam empat paragraf minimal 12 kalimat
5. Waktu yang diberikan untuk menyusun karangan tersebut adalah 2 x 40 menit (2 jam pelajran)
6. Pilihlah salah satu topik karangan berikut ini kemudian kembangkan menjadi sebuah karangan utuh
a. Bencana alam
b. Manfaat perpustakaan.
c. Manfaat surat kabar.
d. Lingkungan.
e. Rencana setelah lulus SMP
3.4 Pengoreksian Data
Langkah-langakah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memberi kode pada setiapa lembar kerja sisiwa dengan memberi nomor urut
2. Mengoreksi karangan siswa, karena ada mungkin sebagian kata atau kalimat tidak terbaca.
3. Mengoreksi setiapa kalimat untuk menentukan unsur kelengkapan kalimat, kehematan, plihan kata (dikisi) yang tepat serta kelogisan kalimat dengan rambu-rambu kriteria sebagai
4. Apabila panjang karangan tidak mencukupi 4 paragraf maka pekerjaan siswa tidak diperiksa
5. Jika jumlah karangan tidak mencukupi 12 kalimat maka pekerjaan siswa tersebut tidak diperiksa
Untuk mengetahui kemampuan siswa membuat kalimat efektif dalam karangan dihitung dengan rumus sebagai sebagai berikut:
= skor perolehan x 100% Skor maksimum
3.5 Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan, selanjutnya diolah menggunakan teknik statistik deskriptif kuantitatif dengan presentase. Untuk mengetahui kemempuan siswa dalam menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa IX SMP Negeri 1 Lainea baik secra indivudu maupun klasikal dapat dilihat penggunaan rumus pada uraian berukit ini:
Rumus ynag dipakai untuk menentukan presentase kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan secara individual adalah:
KI = Skor perolehan x 100% Skor maksimum
Untuk lebih jelasanya, berikut adalah tabel nilai kemampuan:
Penilaian Kemampuan Individual
Kemampuan Skor Presentasi kemampuan
Mampu 11-16 68, 75%- 100%
Tidak mampu 1-10 6, 25%- 62,5 %
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis data secara kuantitatif kalimat efektif pada karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea menggunakan data statistik atau angka- angka. Deskriptif hasil analisis data secara kuantitatif kalimat efektif berdasarkan aspek kelengkapan, kehenmatan, kelogisan, dan diksi kalimat.
4.1 Data Hasil Penelitian
Tabel
Hasil Penelitian Skor USeluruh Aspek dalam Menggunakan Kalimat Efektif dalam
Karangan Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Lainea
No.Urut responden Skor per aspek TOTAL PERSENTASE (%) KEMAMPUAN
U H D L M TM
1 3 1 1 2 7 43,75%
2 1 3 3 2 10 62,5%
3 1 1 2 2 6 37,5%
4 3 2 2 3 10 62,5%
5 3 3 2 4 12 62,5%
6 3 3 3 3 12 75%
7 3 2 2 3 10 75%
8 1 1 1 1 4 62,5%
9 1 1 1 3 6 25%
10 2 2 3 3 10 62,5%
11 3 2 1 3 9 56,25%
12 3 3 4 4 14 62,5%
13 3 2 1 3 9 56,25%
15 3 1 2 3 9 56,25%
16 2 3 3 4 12 75%
17 1 1 2 3 7 43,75%
18 1 1 1 3 6 37,5%
19 3 3 3 4 13 81,25%
20 2 1 3 3 9 56,25%
21 2 2 2 4 10 62,5%
22 3 3 3 3 12 75%
23 3 1 1 3 8 50%
24 3 3 4 2 12 75%
25 2 3 1 4 10 50%
26 3 3 4 3 12 81,25%
27 2 1 1 1 5 31,25%
28 2 1 1 1 5 31,25%
29 2 3 2 3 10 62,5%
30 3 3 3 1 10 62,5%
31 2 1 1 2 6 37,5%
32 2 1 1 1 5 31,25%
33 2 1 1 1 5 31,25%
34 2 2 3 3 10 62,5%
35 2 1 1 1 7 43,75%
36 2 1 1 2 6 37,5%
37 2 2 2 3 9 56,25%
38 2 1 1 2 6 37,5%
39 2 3 3 2 10 62,5%
40 2 2 2 1 7 43,75%
42 2 1 1 2 6 37,5%
43 2 2 2 2 8 50%
44 3 3 2 2 10 62,5%
45 1 1 1 2 5 31,25%
46 2 1 2 2 7 43,75%
47 3 3 2 2 10 62,5%
48 2 1 2 2 7 43,75%
Keterangan:
U: kelengkapan M: mampu
H: kehematan TM: Tidak Mampu
L: kelogisan
D: diksi
Berdasarkan data pada tabel di atas, terliaht bahwa persentase nilai kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan sebagian besar sangat rendah. Secra keseluruhan, total skor terendah dicapai oleh responden adalah 14 (87,5%).
4.2 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa Per Aspek
4.2.1 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Kelengkapan
Dapat dijelaskan bahwa di antara 48 responden yang dijadikan sampel penelitian terdapat 19 responden yang mencapai nilai kemempuan minimal 65% dengan rincian sebagai berikut : 1 responden (2,08) yang memperoleh skor 4 dengan nila respondeni 100, 18 responden (37,5%) yang memperoleh skor 3 dengan nilai 75, 22 responden(45,83%) yang memperoleh skor 2 dengan 50, sisa responden yakni 7 responden (14,58%) memperoleh skor 1 dengan nilai 25.
4.2.2 Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan pada Aspek Kehematan
Berdasarkan hasil pengolahan data tentang kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan aspek kehematan, menunjukan skor yang diperoleh berkisar anatara 1-3. Diperoleh skor vdan nilai aspek kehematan menunjukan bahwa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu menggunakan kalimat efektif dalam karangan. Karena pada as[ek kehematan 27,08% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.2.3. Deskripsi Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Kelogian
Berdasarkan hasil pengolahan data tentang kememuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan pada aspek kelogisan menunjukkan bahwa siswa kelas IX SMP Kelas I Lainea tidak mampu dalam mengguanakan kalimat efektif dalam karangan. Dikatakan demikian, karena kemempuan SMP Negeri I Lainea kelas IX pada kelogisan mencapai 47,91% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.1.4 Deskripsikan Kemampuan Menggunakan Kaliamt Efektif dalam Karangan Siswa pada Aspek Pilihan Kata (Diksi)
Deskripsi perolehan skor dan nilai pada aspek pilihan kata menunjukkan bahwa siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu dalam menggunakan kalimat efektif dalam karangan. Karena, kemampuan SMP Negeri I Lainea kelas IX pada aspek pilihan kata mencapai 25% ini berarti tidak mencapai 85% yang memiliki kemampuan minimal 65%.
4.3.1. Analisis Keseluruhan Aspek Penelitian
Berdasarkan uraian yang diuraika sebelumya, maka kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri I Alinea , dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Kemampuan menggunakan kalimat efektif siswa kelas IX SMP Negeri I Alinea pada aspek kelengkapan secara klasikal di kategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 35, 33% yakni belum mencapai kriteria kemampuan minimal 85%
2. Pada aspek kehematan secra klasikal dikategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 13% yakni belum mencapai kemampuan minimal 85%
3. Pada aspek kelogisan dikategorikan tidak mampu karena hanya memeroleh nilai 47,9% belum mencapai kemampuan minimal 85%
4. Pada aspek pilihan kata secara klasikal dikategorikan tidak mampu karena hanya memperoleh nilai 25% yakni belum mencapai kriteria kemampuan minimal 85%
4.3. Interprestasi Hasil penelitian
1. Kelengkapan Unsur Kalimat
Data sebagian kalimat tidak lengkap unsur kalimatnya dalam karangan siswa.
a. Dan pada keesokan harinya, kerusakan-kerusakan tersebut ternyata telah ditangani oleh pemerintah. Tidak lengkap karena pemakaian kata (dan) pada awal kalimat
b. Dan Aku pun berkata “ Aku mencintai lingkunganku!”. Kalimat tersebut diperbaiki menjadi: Aku pun berkata “ Aku mencintai lingkunganku!”
2. Kehematan
Data sebagian kalimat tang tidak hemat dalam karangan siswa adalah sebagai berikut:
a. Akhirnya, setelah sebulan berlalau akhirnya limgkungan kami juga telah bersih, indah, juga , nyaman.
Kaliamat di atas tidak hemat diperbaiki menjadi:
a. Akhirnya, setelah sebulan berlalu lingkungan kami juga telah bersih, indah juga nyaman.
3. Kelogisan
Keefektifan klaimat terpenuhi apabila kalimat ynag digunakan mendukung kelogisan dalam klaimat.
a. Kamu biasa mendapat nilai yang bagus dari buku-buku perpustakaan itu. Kalimat tersebut tidak logis karena nilai ynag bagus hanya dapat di berikan oleh guru bukan dari buku-buku perpustakaan. Buku per[ustakaan hnay memberikan kita ilmu.
4. Pilihan Kata
Data sebagian kalimat yang tepat penggunaan diksinya dalam karangan siswa adalah sebagi berikut:
a. Setelah sudah dekat ulangan Gilang belajar giat terus sampe-sampe susi dikal belajarnya sama Gilang, karena dia senang membaca buku perustakaan
Kalimat di atas tidak tepat penggunaan diksinya karena menggunakan kata yang tidak baku dalam kalimat’ setelah sudah dekat’ dan kata ‘ sampe-sampe’. Kalimat tersebut menjadi: Menjelang ulangan, Gilang belajar giat bahkan dapat mengalahkan Susi, karena dia senang membaca buku perpustakaan.
Berdasarkan pengamatan peneliti selama mengadakan penelitian, ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea tidak mampu menggunakan kalimat dengan efektif dalam karangan antara lain:
1. Siswa jarang sekali berlatih menuliskan kalimat efektif
2. Kosa kata yang mereka kuasai sangat sedikit sehingga pilihan kata yang mereka gunakan kadang- kadang tidak efektf
3. Siswa menganggap remeh bahwa menulis kalimat itu gampang tanpa melihat struktur kalimatnya sehingga bnyak kalimat yang tidak lengkap yang menyebabkan kalimat tersebut tidak efektif
4. Pembelajaran gru yang bel;um maksimal mengenai pembelajaran kalimat efektif sehingga siswa kurang memahami cara menggunakan efektif dal;am karangan
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, dari empat aspek yang diteliti tentang kemampuan menggunakan kalimat efektif dalam karangan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Lainea, terdapat :
a. Pada aspek kelengkapan, menunjukan bahwa pada 48 responden siswa kelas IX SMP Negeri I Lainea 19 responden (39,58%) masuk dalam kategori mampu, sedangkan 31 responden (64,58%) masuk dalam, kategori tidak mampu
b. Pada aspek kehematan 13 responden( 27,08%) mampu, 35 responden (72,91%) tidak mampu
c. Pada aspek kelogisan 23 responden (47,91%) masuk dalam kategori tidak mampu
d. Pada aspek pilihan kata diksi 12 responden(25%) masuk kategori mampu, 36 responden(75%) dalam kategori tidak mampu
5.2 Saran- saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
1. Saran kepada siswa
Siswa hendaknya belajar blebih baik tentang penggunaan kalimat bahasa indonesia yang efektif, baik bahasa lisan maupuj dalam tulis
2. Saran kepada guru
Pada guru SMP Negeri I Lainea, khususnya guru bahasa indonesia dan satra perlu meningkatkan latihan bahasa tulis( mengarang) untuk sampel (obyek) dengan menggunakan kalimat efektif yang meliputi kelengkapan, kehematan, kelogisan, serta pilihan kata yang tepat (diksi), sehingga hasil karangan siswa akan lebih baik ada masa-masa yang akan datang
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2001. Bahasa penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Ahmadi , Muksin. 1991. Penyusunan dan Pengembangan Paragraf Serta Penciptaan Gaya Bahasa. Malang : YA 3 Malang.
Arikunto , Suharsimi. 2001. Prosedur penelitian. Jakarta . Rineka Cipta.
Chaer , Abdul. 1988. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Bharata Karya Aksara .
Depdikbud. 1994. Kurikiulum Bahasa Indonesia SMP. Jakarta : Depdikbud.
Keraf , Gorys. 1980. Tata bahasa indonesia. Flores : Nusa Indah.
Mukti. 2002. Pengembangan Paragraf , Kalimat Efektif, Pilihan Kata( diksi) dan Tata Tulis (Ejaan). Bandung : Angkasa
Muliono , Anton. 1997. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta: Djambatan
Parera, Jos Daniel. 1987. Sintaksis : ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta
Razak, Abdul . 1992. Kalimat efektif (struktur , gaya dan variasi). Jakarta : Gramedia Pustak Alam
Rusyana , Yus. 1988. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan pendidikan. Bandung : Diponegoro.
Sande. 1991. Morfologi dan sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.
Sirait, Bistok. 1986. Pedoman Karang Mengarang. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Soedjito. 1990. Kalimat Efektif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta : Depdikbud.
Tarigan , H.G. 1985. Pengajaran sistematis, Bandung Angkasa
Langganan:
Postingan (Atom)